20 Januari 2026
Foto 2a - Program PASTI, hasil kolaborasi BKKBN, Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang diimplementasikan oleh Wahana Visi Indonesia hingga Januari 2027

Marketplus.id – Stunting masih menjadi tantangan besar pembangunan manusia di Indonesia. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting secara nasional mencapai 19,8%, atau sekitar satu dari lima bayi. Kondisi ini bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi berdampak langsung pada perkembangan otak, kesehatan anak, hingga produktivitas ekonomi masyarakat di masa depan. Mengapa hal ini terjadi dan apa yang bisa dilakukan? Berikut lima fakta yang perlu Anda ketahui:

1. Stunting Dimulai Sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Periode emas dari kehamilan hingga usia dua tahun menentukan masa depan anak. Untuk itu, penting sekali untuk memerhatikan kecukupan gizi ibu dan bayi di bawah dua tahun (baduta) karena kegagalan memenuhi kecukupan gizi kronis di fase ini dapat memicu gagal tumbuh dan menghambat perkembangan otak. Program PASTI menjawab tantangan ini dengan memberikan bantuan nutrisi untuk 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), menjangkau lebih dari 1.276 baduta dan ribuan keluarga berisiko.

2. Gizi Tidak Seimbang Masih Jadi Masalah

Kurangnya nutrisi dan gizi penting seperti protein, vitamin, dan mineral membuat anak rentan terdampak stunting. Untuk itu, orang tua harus mendapatkan informasi yang memadai akan pola makan yang baik dan cukup agar anak mendapatkan nutrisi yang optimal. Melalui 127 Pos Gizi DASHAT (PGD) aktif, PASTI memastikan keluarga mendapatkan edukasi dan akses pangan bergizi di tingkat desa.

3. Sanitasi Buruk Memicu Infeksi

Lingkungan yang tidak bersih meningkatkan risiko diare dan infeksi serta menghambat penyerapan gizi. Untuk itu, akses air bersih dan jamban sehat adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Program PASTI juga turut mendukung pembangunan jamban sehat di desa dampingan, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang kebiasaan hidup bersih.

 4. Edukasi Gizi Masih Rendah

Banyak keluarga belum memahami pentingnya ASI eksklusif dan MPASI bergizi. Untuk itu, penting untuk menghadirkan edukasi berkelanjutan kepada orang tua. Selain orang tua, anak usia remaja juga aspek penting yang perlu mendapatkan informasi yang tepat untuk mendorong perubahan persepsi dan perilaku orang tua dalam memberikan gizi yang cukup. Untuk itu, PASTI memberikan pelatihan kepada 363 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan menggerakkan 178 remaja sebagai agen perubahan untuk Kampanye Perubahan Perilaku (KPP). Para remaja tersebut kini juga berhasil menjangkau 2.178 remaja usia 15-19 tahun yang difasilitasi para remaja tersebut.

5. Kolaborasi Adalah Solusi

Stunting bukanlah sebuah masalah yang dapatkan diselesaikan oleh satu pihak.  Pemerintah, masyarakat, dan mitra harus turut berkolaborasi dan bekerja sama untuk mengatasi isu ini serta memastikan semua anak di Indonesia mendapatkan hak mendasar mereka akan makanan yang baik dan layak. Program PASTI adalah kemitraan antara BKKBN, Tanoto Foundation, PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara, dan PT BCA Tbk, diimplementasikan oleh WVI di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Hingga Desember 2025, program ini menjangkau 6.808 orang dewasa, memperkuat 402 anggota TPPS, dan mendorong terbentuknya 26 Desa Model agar praktik baik berkelanjutan. Atas kontribusi ini, PASTI meraih empat penghargaan nasional dari BKKBN dalam kategori Mitra Pentahelix Program GENTING.

Eben Ezer Sembiring, Program Director WVI menyampaikan “Anak-anak adalah masa depan bangsa. Untuk itu, penting bagi setiap keluarga, desa, dan pemangku kepentingan untuk berjalan bersama, memastikan anak mendapatkan haknya akan makanan bergizi dan layak, serta memutus akar persoalan stunting. Melalui pendampingan Program PASTI bersama dengan pemerintah daerah dan masyarakat, kami membuktikan bahwa perubahan perilaku dan sistem dapat berjalan beriringan dan menghasilkan dampak besar,” ujarnya.

Wahana Visi Indonesia terus memperkuat komitmen dalam menghadirkan perubahan berkesinambungan bagi anak, keluarga, dan masyarakat paling rentan serta memastikan setiap anak Indonesia dapat tumbuh sehat dan mencapai potensi terbaiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *