Marketplus – Dalam dunia digital, tanamkan pemahaman bahwa tidak ada tempat yang aman di ruang digital atau internet. Hal tersebut diungkapkan Jatmiko Fitri Hamzah, Ketua RTIK Magetan saat mengisi webinar Literasi Digital di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Oleh karena itu, kita harus ekstra berhati-hati saat berada di ruang digital.

“Ruang digital dianggap sebagai tempat yang tidak aman karena banyak sekali terdapat ancaman digital,” tutur Jatmiko, Selasa (31/8/2022).

Dalam penjelasan Jatmiko, terdapat tiga ancaman digital, yaitu ancaman terhadap konten multimedia, ancaman security, dan ancaman sosial. Pertama, ancaman konten multimedia meliputi manipulasi konten, meta data, tagging, dan fake image exploiter.

Ia melanjutkan, ancaman kedua yaitu ancaman security dan terdiri dari phishing, malware, cybercrime, kloning profile, data mining, dan spamming. Ketiga, ancaman sosial berupa cyber bullying dan cyber stalking.

Ancaman-ancaman tersebut tentu merugikan korban baik secara langsung maupun tidak langsung. Risiko dari ancaman digital bagi pengguna media sosial seperti pengambilalihan akun, cybercrime, pemerasan, kerusakan pada perangkat. Pada kondisi psikologis, ancaman memungkinkan terjadinya perubahan pola perilaku korban.

“Ancaman digital juga mengancam kelangsungan data pribadi seseorang. Baik data pribadi secara umum maupun khusus yang dapat merugikan pemilik data tersebut,” ujarnya kepada audiens webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021.

Data pribadi umum ini biasanya meliputi nama, tanggal lahir, nomor telepon, email, alamat, dan jenis kelamin. Sementara, data pribadi khusus atau spesifik meliputi rekam medis, iris mata, agama, pandangan politik, orientasi seksual, data keuangan, dan sebagainya.

Dengan demikian, Jatmiko memberikan tips aman dalam menjaga dan menghindari ancaman keamanan digital.

  1. Mengaktifkan verifikasi 2 langkah atau two factor authentication
  2. Mengganti password secara berkala dan tidak memuat informasi pribadi di dalamnya
  3. Jangan klik link yang mencurigakan secara sembarangan
  4. Pastikan sumber berita yang kita dapat dan bagikan itu valid
  5. Jaga etika saat menggunakan media sosial
  6. Berhati-hati saat melakukan transaksi secara online
  7. Menginstall aplikasi seperlunya
  8. Berhati-hati dengan koneksi publik
  9. Mematikan perangkat secara berkala

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (31/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Fiqhi Fajar (Pelaksana Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dan Lelang), Ayrton Eduardo (Founder Crevolutionz), Ahmad Aprilio Adha (Pegiat Literasi Pernashakan Jawa), dan Rinanti Adya Putri sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.