Marketplus.id – Sebagai anak muda, sering kali terjebak dalam skenario informasi hoaks yang dibangun oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab di media sosial. Bahkan ikut serta berargumen untuk membenarkan berita hoaks tersebut.

Hal itu disampikan, Bagus Nawoto Seno, Owner Nawoto Architect and Consullation, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (20/9/2021).

“Saat berselancar di dunia maya, kita tentu pernah menerima informasi dari sahabat, tetangga, bahkan saudara sendiri tentang hal yang belum pasti kebenarannya. Tidak sedikit yang terlibat perdebatan sengit, tentang informasi tersebut, bahkan tidak jarang juga membuat hubungan satu sama lainnya jadi kurang harmonis. Jika hal ini dibiarkan terus menerus, tentu juga akan merusak keharmonisan kita sebagai bangsa dan negara,” ujarnya.

Ia menjelaskan, mudahnya akses internet saat ini, membuat informasi beredar dengan sangat cepat di media sosial. Sehingga informasi apa pun begitu mudah sampai ke ruang publik.

Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jumlah pengguna internet Indonesia sudah mencapai angka 143,26 juta. Di mana pengguna mayoritasnya berada di kisaran umur 19–34 tahun, yang notabene adalah generasi milenial.

“Melihat data tersebut, bisa dikatakan generasi milenial memiliki peran yang signifikan dalam alur penyebaran informasi di media sosial. Oleh karena itu, kita harus memiliki aware yang tinggi untuk mencegah penyebaran informasi hoaks yang membahayakan kesatuan bangsa dan negara,” paparnya.

Lanjutnya, generasi milenial harus menjadi smart netizen yang anti-hoaks. Menjadi filter dari informasi yang beredar di tengah masyarakat. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, agar di era 4.0 kita tidak terjebak dengan berita hoaks.

Pertama, pelajari dulu informasinya. Biasakan untuk tidak langsung share berita yang kita terima dan pastikan kita sudah membaca informasinya secara utuh. Kedua, pahami informasi. Lakukan analisa terhadap informasi yang kita terima. Ketiga, konfirmasi. Lakukan konfirmasi kepada sumber-sumber yang terpercaya terkait informasi tersebut.

Keempat, tindak lanjuti. Setelah kita bisa mengambil kesimpulan dari sebuah informasi, baru kita bisa menyikapi secara baik dan bijaksana.

“Sadar atau tidak, informasi hoaks sudah begitu banyak beredar di tengah kita. Kondisi ini, bila terus dibiarkan tentu sangat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Karena itu, kita wajib hukumnya bagi kita untuk melawan hoaks. Terutama generasi milenial yang menjadi pengguna internet terbesar Indonesia. Di era 4.0 ini berjuang tidak lagi harus dengan mengangkat senjata. Kita cukup mengambil peran sebagai anak bangsa yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.

Menurutnya, mulai saat ini, mari dideklarasikan diri menjadi milenial yang anti hoaks. Sebagai respon, terhadap ancaman hoaks yang semakin beredar masif di tengah-tengah.

“Saat ini, yang dibutuhkan Indonesia adalah para pahlawan anti hoaks. Karena itu, mari pastikan, saya, anda, dan kita semua menjadi bagian aksi nyata dari perjuangan Ini. Demi terjaganya persatuan dan kestatuan Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai,” tuturnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (20/9/2021) juga menghadirkan pembicara Albiruni Haryo (Dokter Hewan & Direktur Satwa Sehat Indonesia), Erna Eriana (CEO Cleopatra Management), Jean Christy Sihotang (Teacher at Ora et Labora Senior High School), dan Sukma Ningrum (Video Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.