Marketplus.id – Beberapa tahun terakhir adalah eranya serangan siber. Mulai dari pencurian identitas hingga peretasan website, serangan-serangan seperti itu sudah mendominasi pemberitaan media secara masif.

Hal itu dikatakan, Zulham Mubarak, Ketua Umum Milenial Utas & Komisaris PT. Agranirwasita Technology Indonesia, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (27/9/2021).

Lanjutnya, secara rata-rata, korban serangan siber menghabiskan Rp11 juta dan kehilangan 20 jam kerja untuk memperbaiki kerusakan yang diakibatkan serangan siber. “Sehingga serangan siber sudah tidak bisa lagi dianggap sebelah mata,” ujarnya.

Karena itu, Anda harus mewaspadai tujuh serangan siber, seperti

  1. Peretasan Data Retail

Peretasa retail adalah bahaya serius yang dapat merugikan siapa pun. Pada 2014, perusahaan retail Amerika Serikat diserang, dan peretas mencuri 40 juta nomor kartu kredit dan debit konsumen. Peretas ini mencuri dan menjual informasi pribadi di pasar gelap. Agar dapat terhindar dari hal seperti ini, retail harus selalu memperbarui keamanan metode pembayaran, dan berhati-hati soal laporan akun kartu kredit.

  1. Ancaman Keamanan Smartphone

Para pelaku kriminal siber bisa dengan mudah menyerang smartphone Anda, sebab smartphone sangat rentan pencuria data pribadi. Kerentanan ini biasanya datang dari aplikasi yang Anda gunakan di smartphone itu sendiri. Anda bisa menjaga diri sendiri dengan melakukan riset terhadap aplikasi yang Anda unduh, berhati-hati dalam membuka email dari pengirim yang tidak familiar, dan gambar-gambar yang Anda unggah.

  1. Serangan Phishing dan Social Engineering

Phishing adalah ketika pelaku serangan siber memancing orang untuk membocorkan informasi-informasi sensitif seperti password dan lain-lain. Salah satu cara paling umum dalam phishing adalah ketika seseorang menerima email, misalnya dari bank, dan dipancing ke situs yang kelihatannya autentik. Ketika berada di situs, orang tersebut akan diminta password dan data-data finansial.

Pelaku serangan siber mengambil informasi dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan tertentu. Phishing adalah bagian kecil dari yang disebut social engineering, yang dapat memanipulasi emosi seseorang agar bisa mengakses data-data sensitif.

  1. Pencurian Identitas

Salah satu serangan siber yang sedang berkembang adalah pencurian identitas. Mayoritas poin-poin yang sudah disebutkan berujung pada pencurian identitas. Akan tetapi, sebenarnya Anda juga mungkin tidak sadar sedang dicuri karena pernah mengunggah foto, video, alamat rumah, hingga resume.

Para pencuri identitas akan mencuri informasi pribadi dan membuka akun kartu kredit atas nama Anda. meskipun ini sudah berada di luar jangkauan Anda, ada hal-hal yang bisa Anda lakukan untuk menghindarinya.

  1. Peretasan Data Kesehatan

Di awal 2015, perusahaan healthcare asal Amerika Serikat mengalami peretasan data berskala besar, yang berdampak pada 78.8 juta orang. Pada Juli 2015, peretas menembus jaringan komputer UCLA Health System’s sehingga memiliki akses terhadap informasi pribadi dari 4.5 juta pasien.

Riwayat kesehatan berisi informasi penting yang sensitif, dan menjadi target utama dari pelaku kriminal siber. Biasanya, pencurian data tersebut digunakan untuk penipuan asuransi kesehatan, dan jual-beli resep dokter palsu.

  1. Predator Seksual

Apabila suka mengunggah foto anak-anak Anda, Anda harus waspada karena predator seksual mengintai. Foto tersebut biasanya akan diambil dan dijual via email, aplikasi tertentu, hingga dark web.

Bahaya online lainnya yang menargetkan anak-anak adalah predator seksual yang mencoba bertemu dengan anak-anak secara langsung. Pastikan anak-anak Anda paham akan bahaya ini, dan tidak pernah membagikan foto-foto pribadi ke orang yang baru dikenal.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, (27/9/2021) yang menghadirkan pembicara, Moh. Fiqih Ainuzzaki (Direktur CV. Mitra Integrasi Solusindo), Ayrton Eduardo Aryaprabawa (Founder & Director Crevolutionz), Ratno Bagus Edy Wibowo (Dosen Prodi Matematika Universitas Brawijaya), dan Muhammad Umar (CEO CV. Sekoncoan Group) sebagai Key Opinion Leader.