Marketplus.id – Internet memiliki berbagai peluang baik, tetapi hal tersebut tidak akan terjadi jika kita tidak mempersiapkan diri dengan baik. Ayrton Eduardo Aryaprabawa, Founder & Director Crevolutionz mengatakan, yang perlu dipersiapkan ialah rekam jejak digital kita. Rekam jejak ialah apa yang tampil atau muncul saat nama kita atau sosok kita dicari di internet.

“Rekam jejak digital bisa muncul dari aktivitas online, aktivitas di media sosia, pemberitaan/publikasi, dan kehadiran digital kiya secara umum. Aktivitas online termasuk mencari informasi dan belanja online,” papar Ayrton dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Senin (27/9/2021).

Jadi, setiap kegiatan kita yang menggunakan koneksi internet akan saling terhubung dan terkait. Semua yang kita lakukan akan terekam menjadi rekam jejak digital.

Jejak digital bisa menjadi sesuatu yang membahayakan atau merugikan apabila bertentangan dengan nilai sosial. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan data dan informasi apa yang ditinggalkan di dunia digital, mulai dari psotingan, komentar, dan lainnya. Selain itu, ada konsekuensi hukum sesuai dengan UU ITE.

Potensi bahaya jejak digital bisa mengarah pada pencurian identitas, doxing dan framing, serta akses ilegal terkait data pribadi. Jangan sampai kita menjadi korban atau pelaku hanya karena jejak digital yang negatif atau berisi informasi sensitif.

“Pada saat bermain sosial media, dan kalian memiliki kehadiran di internet, yang harus penting dijaga adalah clearity. Kalau bikin statement harus jelas jangan abu-abu agar tidak di framing,” imbaunya.

Rekam jejak digital bisa menjadi berbahaya karena keteledoran diri saat mengupdate di media sosial, data pribadi yang tersebar bebas, image negatif, dan paparan pornografi, hoaks, serta radikallsme.

Agar rekam jejak digital selalu baik, kita perlu meningkatkan literasi digital, etika digital, kesadaran diri sendiri, dan selalu membagikan karya atau konten yang positif ke publik di ruang digital.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Senin (27/9/2021) juga menghadirkan pembicara,  Keke Michelle Away (Tenaga Ahli DPR RI), Maria Anishya (Dosen Komunikasi STT Malang), Muhammad Alvin Al-Huda (Founder & CEO CV Huni Raya Group), dan Aprillia Frinanda Setiawan (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.