Marketplus.id – Penggunaan internet mengalami peningkatan seiring kondisi pandemi corona (Covid-19), yang memaksa aktivitas belajar mengajar, bisnis, kegiatan kantoran dikerjakan dari rumah. Masyarakat juga mesti waspada.

Pasalnya, kejahatan siber terus mengintai. Masyarakat lebih berhati-hati memanfaatkan internet untuk bisnis dan berbagi konten atau postingan di media sosial (medsos). Segala sesuatu yang pernah diunggah atau di-posting oleh pengguna media sosial akan ada selamanya.

“Postingan yang pernah kita upload itu tersimpan. Tidak bisa kita hapus, cuma bisa dikurangi,” kata Wiwin Yoppy, Penggiat Pariwisata dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021).

Lanjutnya, jejak digital itu bisa sangat berbahaya jika digunakan untuk memposting hal-hal yang tidak pantas. Di wilayah digital sekalipun, hampir mustahil jejak digital itu bisa dihapus.

Jika postingan bermuatan negatif atau melanggar norma yang berlaku, maka ke depannya bisa saja membahayakan serta merugikan pemilik akun. Di zaman serba internet seperti sekarang, untuk mencari tahu baik buruknya kepribadian seorang, beberapa pihak mulai mencarinya dari medsos. Tidak aneh jika dikatakan jejak digital itu kejam.

“Untuk jejak digital, meski ada undang-undang, bukan jaminan data kita bisa dihapus dan hilang dari internet selamanya,” Wiwin mengingatkan.

Ia menerangkan, minta publik tidak sembarangan melakukan postingan di medsos. Jika untuk hal negatif, bisa berdampak serius keesokan harinya. “Ada yang langsung, tapi ada juga yang lama dampaknya baru terasa. Apa yang kita posting itu akan terekam menjadi jejak digital,” tegasnya.

Ia mengisahkan, ada pelajar yang lolos beasiswa pendidikan untuk bersekolah ke luar negeri. Namun akibat pernah mem-posting suatu yang negatif, akhirnya siswa tersebut gagal berangkat. “Ini saya ingatkan, agar tidak sembarangan melakukan posting-an apalagi yang berbau hal pribadi ke publik,” katanya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (30/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Misdiyanto (Dosen Fakultas Teknik Komputer UPM Probolinggo), Nur Lina Safitri (Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPPM ITSNU Pasuruan), Bahruddin (Ketua RTIK Pasuruan), dan Aprilia Frinanda Setiawan (Video Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.