Marketplus.id – Semakin berkembangnya teknologi digital berakibat semakin tenggelamnya orang di dunia maya dan melupakan dunia nyata. Widya Prasmustyo, Aktivis Teknologi Informasi, menjelaskan, 31,4 persen remaja di Jakarta kecanduan internet.

“Ini adalah data penelitian sebelum COVID-19. Ada 31,4 persen remaja di Jakarta mengalami kecanduan di internet, angka ini cukup tinggi di dunia. Jadi, masalah ini ternyata ada di Indonesia,” kata Widya, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (02/11/2021) pagi.

Ia mengatakan, 91% anak mengakses internet di rumah. Melalui hal ini seharusnya orang tua telah mengetahui anak tersebut telah mengalami kecanduan internet.

“Pada remaja, 18,3% mengalami kecanduan internet. Jadi, satu dari lima orang mengalami kecanduan internet dan juga untuk dewasa muda, yang artinya berusia 18 tahun ke atas itu adalah sekitar 15%,” jelasnya.

Ia menerangkan, alasan anak kecanduan internet, terutama game online, karena anak merasa permainan tersebut dapat memenuhi kebutuhan. “Pertama ada kebutuhan otonomi, dia bisa memilih avatarnya sendiri. Yang kedua adalah di games itu dia bisa berkompetisi lalu dia menang. Kemudian dia merasa diapresiasi. Ketiga adalah pada saat dia bermain game online, reward itu bisa secepatnya terjadi,” ujarnya.

Ia menegaskan agar anak tidak kecanduan bermain game perlu adanya apresiasi dari orang tua sehingga anak merasa diakui, memiliki tempat, dan tidak lagi membutuhkan apresiasi dari dunia virtual.

Ia juga menambahkan, saat anak tidak mendapatkan tempat, baik di rumah atau di sekolah, tidak dapat dukungan dan keunikan tidak diapresiasi, anak akan mencari pergaulan yang bisa menerima dirinya.

“Intinya adalah ketika remaja tidak merasa sesuai dengan standar orang dewasa itu, pasti terdorong memilih kegiatan yang menantang buat dia,” jelasnya.

Ia mengajak orang tua untuk menyadari remaja memiliki efek penumpukan emosi yang tidak tersalurkan sehingga tidak hanya butuh disalurkan emosinya namun butuh untuk diledakkan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (02/11/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Nicholas Ramli (Analytics Specialist at Dentsu Merkie Jakarta), Devi R. Ayu (Communications & Digital Marketing Specialist), Edward Maraden (Field on Border Team Leader at Zenius Education), dan Untsaa Nabila (Sosial Media Influencer) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.