Marketplus.id – Di era globalisasi ini, mengakses media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari dan suatu kebiasaan yang sulit dipisahkan oleh banyak orang. Hampir semua orang pastinya akan membuka smartphone-nya setiap waktu dan secara otomatis mengakses akun media sosial miliknya.

Entah untuk bertukar pesan atau mencari suatu informasi di internet. Umumnya, orang-orang akan menggunakan WhatsApp, Instagram, Twitter, YouTube, Facebook, dan lain-lain dalam mendapatkan informasi yang diinginkan.

“Dengan kemudahan dalam penggunaan media sosial ini nyatanya banyak ditemukan kasus penyalahgunaan medsos seperti penyebaran hoaks, hingga ujaran kebencian. Untuk itu, penting sekali berhati-hati dalam menggunakan medsos secara bijak agar tetap aman,” ungkap Yanto, Guru Bahasa Jawa di SMPN 9 Kota Madiun dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (17/11/2021).

Berikut ini beberapa tips mengetahui bagaimana cara bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial agar tetap aman, seperti:

  1. Perhatikan jenis pesan atau informasi yang akan dibagikan

Sebelum mengunggah informasi atau konten baik berupa tulisan, foto, suara, atau video harus disadari betul konten yang diunggah bisa dilihat publik. Oleh sebab itu, harus lebih bijak dalam memilih jenis informasi yang akan dibagikan.

2. Selalu jaga etika dan ingat UU ITE, no hoaks, apalagi fake news

Selalu diingat media sosial merupakan ranah publik yang bisa dilihat banyak orang. Meskipun dalam media sosial setiap orang diberikan kebebasan berekspresi, bukan berarti bebas pula dalam beretika. Untuk itu, dalam menggunakan media sosial tetap harus selalu menjaga etika, sopan santun dan bersikap respect kepada pandangan/pendapat teman serta orang-orang yang ada di media sosial, sehingga tidak akan menyinggung perasaan mereka. Selain itu, perlu hati-hati dalam menyebarkan informasi atau konten di media sosial, terutama konten negatif yang bisa memicu perdebatan. Saat ini, berita hoaks dan palsu sering kali ditemukan di media sosial bahkan banyak orang yang ikut menyebarluaskan informasi tersebut.

3. Tak perlu detail dalam mencantumkan informasi diri atau orang lain

Selanjutnya, di era digital yang semakin canggih ini faktanya juga banyak sekali ditemukan kejahatan siber yang bisa mengintai semua orang dari berbagai kalangan. Misalnya, melakukan hack media sosial, mencuri data korban, yang kemudian menyikat habis saldo rekening ataupun kartu kredit korban. Oleh sebab itu, jangan pernah mencantumkan informasi diri kamu atau orang lain secara detail di media sosial agar tetap aman dan terhindar dari kejahatan siber yang sedang mengintai.

4. Filter akun yang akan diikuti terutama akun dengan konten-konten negatif

Selanjutnya, kamu juga perlu filter orang-orang yang akan diikuti, terutama orang/akun yang sering kedapatan menyebarkan konten-konten negatif di media sosial miliknya. Cara ini dilakukan untuk membantu kamu dalam membatasi atau mencegah penyebaran isu-isu hoaks dan konten penuh kebencian. Jangan sampai, akibat seringnya melihat konten negatif yang bisa merugikan orang lain jadi ikut terpengaruh dan turut menyebarkan ketakutan, isu, dan kebencian kepada sesama di media sosial. Jadi, pilihlah akun-akun yang menyebarkan konten positif yang bisa bermanfaat untuk kamu ataupun orang banyak.

5. Pastikan orang-orang yang diikuti merupakan orang terdekat dan terpercaya saja

Selanjutnya, selain memastikan untuk mengikuti akun-akun yang bisa menyebarkan informasi positif dan bermanfaat. Pastikan juga orang-orang yang mengikuti kamu merupakan orang terdekat atau terpercaya saja.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (17/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Erna Eriana (CEO Cleopatra Management), Stefany Anggriani (Makeup Beauty Influencer), Diana Balienda (Pengusaha & Digital Trainer), dan dr. Wafika Andira (Medical Doctor & Health Educator) sebagai Key Opinion Leader.