Marketplus.id – Era digital menjadi masa ketika informasi mudah dan cepat diperoleh serta disebarkan menggunakan perangkat media digital. Namun era digital yang disokong teknologi berbasis sistem komputerisasi yang terhubung internet dan memicu transformasi digital itu menyimpang sejumlah tantangan terkait penerapan etika bermedia digital.

“Penetrasi internet yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari memicu berbagai perubahan perilaku masyarakat,” kata Adestya Ayu Armielia, Hotel Operations Deputy Head di Universitas Multimedia Nusantara, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (19/11/2021).

Ia mencontohkan dalam situasi pandemi Covid-19 ini menyebabkan intensitas orang berinteraksi dengan gawai semakin tinggi dan tak jarang memunculkan berbagai isu gesekan di ruang digital. Misalnya antara kelompok yang percaya Covid-19 dan tak percaya lalu saling membanjiri berbagai informasi membingungkan di ruang digital.

“Tantangan yang lain dengan perubahan cepat era digital ini makin cepatnya konten-konten sebaran pornografi, perjudian hingga berbau radikal yang diterima pengguna dengan penerimaan berbeda satu sama lain,” ujarnya.

Ia juga menuturkan diperlukan kecerdasan intelektual dan emosional bagi pengguna untuk memilih dan memilah konten di media digital. “Semestinya dengan berbagai kemudahan era digital ini masyarakat mengisi dengan hal produktif, mulai belajar, bekerja, bertransaksi hingga berkolaborasi di ruang digital,” ujarnya.

Media digital menjadi satu hal positif untuk memperluas ilmu pengetahuan, agama, informasi aktual, e-commerce dan lain-lain. “Mari memanfaatkan media digital sebagai sebuah imperative relasi dari jejaring sosial menuju komunitas insani yang memiliki kesadaran, integritas, tanggung jawab dan nilai kebajikan seperti prinsip etika utama bermedia digital,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengguna digital sejak dini perlu dikenalkan dengan perspektif keamanan digital untuk menghindarkan masalah dikemudian hari di ruang digital.

“Perspektif itu baik aspek kognitif, afektif, dan behavioral,” kata Aswar. Menurutnya, aspek kognitif diperlukan untuk memperluas pengetahuan dalam memproteksi diri. Sedangkan afektif untuk menumbuhkan kesadaran dalam melindungi antarwarga digital dan aspek behavioral untuk meningkatkan kesadaran dan kebiasaan untuk selalu waspada.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (19/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Abednego Tambayong (Founder Abed Azarya & Team), Zulham Mubarak (Ketua Umum Milenial Utas & Komisaris PT. Agranirwasita Technology Indonesia), Diding Adi Parwoto (Praktisi IT & Ketua LPM IAI Uluwiyah Mojokerto), dan Akhmad Tobibi sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.