Marketplus.idPermintaan investor terhadap penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) perusahaan produksi panel listrik, perakitan baterai listrik, dan infrastruktur energi baru terbarukan (EBT) PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) membludak.

Rudi Hartono Intan, Direktur Utama Semacom Integrated, mengatakan permintaan calon investor pada masa penawaran awal yang masih berjalan ternyata sudah lebih tinggi dari (oversubscribed) 5,2x sampai hari ini dan akan dapat lebih tinggi lagi. Minat tinggi tersebut terekam dalam proses e-ipo PT Bursa Efek Indonesia untuk saham perseroan yang masih berjalan.

“Tingginya nilai permintaan yang lebih tinggi dari nilai IPO tersebut menunjukkan minat investor pada teknologi listrik dan EBT yang relatif baru di Indonesia, cukup tinggi,” ujar Rudi Hartono dalam rilisnya hari ini (29/12/21).

Dari sisi volume pemesanan melalui proses e-ipo, pemesanan saham SEMA mencapai 18 juta lot dari penawaran sebanyak 3,47 juta lot. Semacom Integrated saat ini sedang menjalani rangkaian proses IPO dan segera mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Dalam aksi korporasi tersebut, calon penghuni papan bursa itu akan melepas 347 juta saham baru atau setara 25,76% dari modal disetor setelah IPO.

Harga penawaran IPO masih berada pada rentang Rp 180-Rp 220. Dengan demikian, nilai IPO maksimal yang akan dikantongi perseroan Rp 76,34 miliar. Sampai dengan 5 Januari 2022, calon investor masih dapat memesan saham perseroan melalui PT NH Korindo Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek IPO SEMA, serta situs www.e-ipo.co.id.

Perseroan memprediksi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat dikantongi pada 30 Desember 2021. Saham perseroan rencananya akan dicatatkan dan dapat diperdagangankan di bursa mulai dari 7 Januari 2022. Seiring dengan IPO tersebut, SEMA juga akan menerbitkan maksimal 173,50 juta waran I sebagai pemanis (sweetener).

Terkait dengan kinerja, Semacom mampu mencetak pendapatan Rp 60,9 miliar per Juni 2021, naik 33,76% dari Rp 45,53 miliar pada tengah tahun 2020. Dengan kenaikan pendapatan tersebut, perseroan mampu membukukan kenaikan laba bersih sebesar 79,87% menjadi Rp 5,93 miliar pada periode yang sama.

Rudi Hartono mengatakan salah satu pendorong kinerja perseroan ke depannya adalah pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik industri dan potensi energi surya, sebagai bagian dari EBT. Faktor pendorong lainnya adalah geliat bisnis pusat data (data center) di Tanah Air.

Menurut Rudi, pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik industri Indonesia diprediksi tumbuh 3,6 kali lipat pada 2036 nanti dibanding 2020, sehingga kinerja Semacom diprediksi dapat turut tumbuh.

Dia mengatakan prediksi pertumbuhan kebutuhan listrik industri tersebut tertuang di dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035 yang ditetapkan pemerintah. Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional itu, kebutuhan energi listrik untuk industri pada tahun 2035 diprediksi mencapai 446.993 GWh atau sebanyak 3,6 kali lipat dari kebutuhan 2020.