Marketplus.id– Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 210 juta penduduk atau sebanyak 73,7 persen masyarakat Indonesia sudah terhubung internet. Sementara itu perlu adanya penyiapan sumber daya yang handal dan produktif serta berdaya saing, sebagai kunci utama terlaksananya transformasi digital nasional.

“Di tingkat dasar, kemampuan literasi digital menjadi keniscayaan bagi pengguna internet Indonesia,” sebut Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate saat sambutan program Makin Cakap Digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pun, menurutnya telah menjalankan program literasi digital untuk memaksimalkan potensi ruang digital sekaligus meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkan seperti hoaks, perundungan online, kejahatan seksual online, serta kejahatan siber lainnya.

Menkominfo Johnny mengatakan, sejak dilaksanakan pada 2017, Program Literasi Digital Nasional telah menjangkau lebih dari 12,6 Juta masyarakat. Tahun 2022, akan diberikan pelatihan literasi digital pada 5,5 juta masyarakat. “Kinerja Literasi Digital Nasional pun mulai menunjukkan dari segi kualitas,” tambah Menkominfo.

Mengundang nara sumber lainnya, Dosen dan Managing Director Kaizen Room, Aidil Wicaksono mengatakan, hubungan dengan banyak orang yang melintasi batas geografis dan perbedaan kultural menciptakan standart perilaku etika baru. Sementara itu potensi-potensi selama pandemi sebenarnya justru bisa dimaksimalkan.

“Sekarang udah nggak zaman eranya kompetisi. Kita sekarang nggak sendiri-sendiri lagi tapi bagaimana menjalin kolaborasi relasi yang lebih baik ke depannya dengan etika itu sendiri,” ujar Aidil saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kota Mojokerto, Jawa Timur pada Rabu (28/9/2022).

Pada 2020 lalu Microsoft sempat merilis Digital Civility Indeks (DCI) yang menempatkan netizen Indonesia sebagai yang paling tidak sopan di Asia Tenggara. Namun hal itu justru langsung direspons dengan membanjiri akun Microsoft komentar negatif, di mana ini menandakan sikap sebenarnya netizen Indonesia dalam beretika. Netizen Indonesia harusnya tidak terburu-buru memberikan respons terhadap sebuah informasi.

Dengan salah satu dasar kecakapan abad 21 yang dibutukan untuk generasi sekarang yaitu critical thinking. Pengguna internet pun diharapkan memiliki kepekaan dalam menerima informasi dan bisa memverifikasi apakah pesan yang diterimanya benar. Terkait etika, tidak seharusnya pengguna media digital membanjiri kolom komentar dengan komentar dan ulasan yang kasar.

“Seperti juga di dunia nyata, mengontrol emosi (dalam berkomentar) juga terjadi di ruang digital karena dampaknya akan besar saat tidak bisa mengontrol emosinya,” tambah Aidil.

Akan tetapi memang menurutnya hal ini merupakan masalah dalam digital society, yang cenderung tidak menyukai aturan mengikat. Sementara mereka cenderung suka mengekspresikan diri saat berinteraksi, khususnya dalam platform media sosial berbagi. Namun tetap saja warganet Indonesia harus bisa mengendalikan diri saat berinteraksi dengan warga digital lainnya, apalagi saat harus berkolaborasi.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kota Mojokerto, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya antara lain Managing Director Kaizen Room, Aidil Wicaksono dan Ketua Relawan TIK Surabaya, M. Sulthonul, serta Jawara Internet Sehat, Ulil Albab. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun media sosial Siberkreasi atau instagram @literasidigitalkominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *