Marketplus.id — Penggunaan internet yang tinggi di Indonesia, serta maraknya layanan e-commerce atau lokapasar, menjadi peluang baru untuk pengembangan bisnis penjualan produk dan jasa. Dibutuhkan trik khusus agar penjualan di e-commerce menjadi optimal. Namun, tetap diperhitungkan mengenai aspek keamanan digitalnya.

Hal tersebut menjadi perbincangan dalam webinar yang bertema “Tips Menggunakan e-Commerce untuk Promosi Usaha”, Selasa (25/10), di Pontianak, Kalimantan Barat, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Webinar ini menghadirkan narasumber, yaitu CEO BerDigital dan Ketua Relawan TIK Kabupaten Sleman Bayhaqi; dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Bone Nur Aisyah Rusli; dan CEO Pena Enterprise Zulchaidir Ashary.

Tak hanya mengandalkan e-commerce, menurut Zulchaidir Ashary dalam paparannya, penjualan produk barang dan jasa juga bisa lewat website yang dibangun sendiri. Bedanya, dibutuhkan anggaran khusus untuk membuat desain, membeli template, nama domain, hosting server, biaya pemeliharaan bulanan, dan fitur keamanan. Sementara di e-commerce, sudah tersedia tempat bagi para penjual untuk berjualan dan fungsi marketplace tersebut hanya sebagai perantara transaksi antara penjual dan pembeli.

“Indonesia adalah ladang subur bagi e-commerce. Berdasarkan survei, 41 % masyarakat Indonesia gemar berbelanja secara online, dan pertumbuhan pembeli lewat mobile e-commerce mencapai 155 % dan diperkirakan pertumbuhan pembeli secara online di Indonesia adalah yang tercepat di dunia,” tutur Zulchaidir Ashary.

Namun demikian, lanjut Zulchaidir Ashary, ada sejumlah tantangan berbisnis lewat e-commerce. Masalah yang paling sensitif adalah kebocoran data pelanggan. Selain itu, ada juga ancaman infeksi malware, pencurian data kartu kredit, maupun phishing. Oleh karena itu, bertransaksi di marketplace menuntut kehati-hatian pelanggan dan penjualnya.

Agar penjualan di marketplace menjadi optimal, Bayhaqi menyarankan pentingnya brand awareness. Artinya, dibutuhkan eksistensi dan pengakuan dengan membangun citra diri dan perspektif masyarakat atau target konsumen terhadap suatu produk, bisnis, atau merek sebuah usaha. Unsur penting dalam brand awareness adalah nama merek, logo, kalimat slogan, tampilan secara visual, dan profil komunikator (founder, maskot, atau tokoh perusahaan).

“Lalu, gunakan media publikasi untuk menaikkan brand awareness. Ingat, hindari isu SARA ataupun segala hal terkait politik dalam pemasaran lewat publikasi,” kata Bayhaqi.

Senada dengan Bayhaqi, Nur Aisyah menyarankan bahwa untuk membangun sebuah brand hendaknya menggunakan nama yang unik, singkat, dan mudah diingat. Selain hal yang sudah disampaikan Bayhaqi, ia menambahkan agar memaksimalkan search engine optimization (SEO). Selain itu, agar lebih popular, bisa memanfaatkan jasa influencer dan pemasaran lewat media sosial.

“Sebelum memulai bisnis, lakukan riset untuk menentukan target dan tren pasar. Pasarkan brand-mu di dunia digital secara bijak agar tetap menjaga keamanan dan kenyamanan bertransaksi,” katanya.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *