20 Juni 2024

Marketplus.id Dalam rangka kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan Workshop Literasi Digital, Rabu, 30 Agustus 2023, di Jawa Barat.

Tema yang diangkat adalah “Darurat Konten Negatif: Pendampingan Internet untuk Anak dan Remaja” dengan menghadirkan narasumber Trainer Digimom Indonesia Gandi Sucipto; Sekretaris Yayasan Pendidikan Cendekia Utama Meithiana Indrasari; serta digimom sekaligus Komite sekolah SMPN 1 Cipanas Iis Nurhayati.

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 disebutkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori “sedang” dengan angka 3,49 dari skala 5.

Dalam merespons hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan “Workshop Literasi Digital” dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Mengutip pernyataan dokter ahli bedah di Amerika Serikat Viviek H Murthy, Iis Nurhayati mengatakan, penggunaan media sosial pada anak dapat menyebabkan risiko tinggi terhadap kesehatan mental. Dengan begitu banyaknya konten negatif di media sosial, apabila terpapar pada anak, hal itu bisa menyebabkan mereka kecanduan. Kemampuan komunikasi dengan orang lain pun menurun apabila anak sudah kecanduan paparan konten negatif media sosial.

“Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan diet gawai lewat pengembangan kreativitas. Di era digital sekarang ini, pemahaman menggunakan media sosial meliputi keterampilan mengolah data, kata, suara, angka, dan gambar,” ucapnya.

Tak hanya itu, lanjutnya, nilai yang dibawa oleh media digital karena cakupannya yang nyaris tak berbatas dari sisi penggunaannya, media digital memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak orang dengan sangat mudah. Ini merupakan aspek penting dalam hal kolaborasi.

Selain itu, untuk meminimalkan risiko paparan konten negatif di media sosial pada anak dan remaja, Iis menyarankan orang tua untuk membuat kesepakatan dengan anak mengenai waktu penggunaan gawai. Selain itu, anak diajarkan untuk mampu memilih media sosial yang tepat, menyaring informasi, serta bagaimana cara mendistribusikan informasi yang tepat dan benar.

“Anak-anak lebih cepat mengetahui perkembangan teknologi, namun itu bukan berarti mereka juga memahami cara menggunakan teknologi tersebut dengan baik. Untuk itulah pendampingan tetap kita berikan kepada anak-anak agar mereka bisa terhindar dari berbagai aspek ancaman keselamatan dalam penggunaan media digital,” kata Iis.

Gandi Sucipto menambahkan, ada beragam platform digital yang apabila dimanfaatkan dengan baik dan tepat justru akan membawa dampak positif terhadap anak. Salah satunya adalah bagaimana memanfaatkan media digital untuk meningkatkkan keterampilan digital anak. Dengan memberikan keterampilan digital pada anak yang disesuaikan dengan ritme anak tersebut, hal itu dapat mengasah kekayaan ide pada anak-anak untuk diwujudkan dalam bentuk kreativitas.

“Anak juga perlu diajarkan bagaimana mengontrol pemakaian gawai. Dalam prosesnya, kehadiran orang tua sebagai pendamping menjadi sangat penting,” tuturnya.

Menurut Gandi, anak-anak memiliki pengaruh untuk mengubah dunia. Mengajarkan anak-anak berbagai kecakapan digital akan membantu mereka mempunyai andil dalam era digital baru dan menciptakan budaya digital mereka sendiri.

Sementara itu, dalam paparannya, Meithiana Indrasari mengingatkan pentingnya budaya digital, yaitu adab dan etika tentang bagaimana menggunakan platform digital. Ia mencontohkan, penting bagi pengguna platform digital untuk menghargai dan menghormati privasi orang lain, berkomunikasi dengan sopan, serta menghargai keberagaman. Tak hanya itu, pengguna platform digital sebaiknya paham dan mengerti mengenai aturan tata laksana di dunia digital.

“Ingat, pengguna platform digital senantiasa dituntut untuk berpikir kritis, mengutip sumber dengan benar, serta mampu mengendalikan emosinya,” kata Meithiana.

Workshop Literasi Digital ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital dapat diakses melalui website literasidigital.id, media sosial Instagram @literasidigitalkominfo Facebook Page dan Kanal Youtube Literasi Digital Kominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *