24 Agustus 2026
DSC05585 copy

Marketplus.id – Memungut sampah di jalan biasanya dipandang sebagai pekerjaan kebersihan. Namun, melalui SPOGOMI Jakarta 2026, aktivitas tersebut dikemas menjadi kompetisi olahraga yang mengajak masyarakat bergerak, memilah, sekaligus melihat langsung persoalan sampah di ruang publik.

Ratusan peserta mengikuti kompetisi Supotsu Gomihiroi atau SPOGOMI di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (23/8/2026). Kegiatan berlangsung pukul 06.00–10.00 WIB dengan titik utama di Jakarta Mori Tower.

Peserta yang tergabung dalam tim menyusuri rute yang telah ditentukan untuk mengumpulkan sampah. Sampah hasil temuan kemudian dibawa kembali untuk ditimbang dan dipilah berdasarkan kategorinya.

Konsep tersebut membuat persoalan sampah tidak berhenti sebagai pesan kampanye. Peserta berhadapan langsung dengan jenis dan jumlah sampah yang ditemukan di ruang publik, sekaligus belajar bahwa pengurangan sampah membutuhkan perubahan kebiasaan sejak dari sumbernya.

Ketua Subkelompok Pemberdayaan Masyarakat Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Susi Andriani, menilai kegiatan tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dalam pengelolaan sampah.

“Acara ini sangat bagus karena melibatkan peran serta masyarakat, terutama dari dunia usaha. Banyak sekali dunia usaha yang ikut mendukung kegiatan SPOGOMI,” ujar Susi di Jakarta, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, keterlibatan lintas pihak penting untuk mendukung Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mengurangi timbulan sampah Jakarta.

SPOGOMI berasal dari Jepang dan menggabungkan olahraga dengan aktivitas memungut sampah. Konsep ini kemudian berkembang menjadi kompetisi internasional, termasuk melalui SPOGOMI World Cup.

Di Jakarta, pendekatan tersebut mempertemukan pekerja kantoran, pelajar SMP, SMA/SMK, mahasiswa, komunitas, dan masyarakat umum. Keikutsertaan lintas generasi menjadi bagian penting karena perubahan perilaku pengelolaan sampah membutuhkan pembiasaan yang berlangsung terus-menerus.

Marketing Manager dari AEON delight Indonesia (PT Sinar Jernih Sarana), Caesario Mi’radz, mengatakan dampak kegiatan tidak semata-mata diukur dari jumlah sampah yang terkumpul pada hari pelaksanaan. “Bagi kami, SPOGOMI bukan sekadar kegiatan memungut sampah. Ini bentuk nyata komitmen untuk ikut menjaga lingkungan dan membangun kesadaran masyarakat,” katanya.

Menurut Caesario, perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana. Ketika seseorang terbiasa memungut, memilah, dan memahami sampah yang dihasilkannya, kebiasaan tersebut berpotensi terbawa ke rumah, tempat kerja, dan lingkungan sekitarnya.

“Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah kegiatan ini selesai. Kami berharap setiap peserta pulang dengan kesadaran baru bahwa sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab kita,” ujarnya.

Susi mengatakan pengurangan sampah dari sumber menjadi salah satu fokus penting pengelolaan sampah di Jakarta. Salah satu tantangan terbesar adalah sampah organik yang masih mendominasi timbulan sampah.

Karena itu, masyarakat didorong mengelola sampah organik dari lingkungan masing-masing melalui berbagai cara, seperti komposter, lubang resapan biopori, maupun metode pengolahan lain yang sesuai.

Pendekatan tersebut penting karena semakin banyak sampah yang dapat ditangani dari sumber, semakin kecil beban yang harus dibawa ke fasilitas pengolahan akhir.

Susi juga menyebut Jakarta tengah memperkuat berbagai pendekatan pengelolaan sampah, termasuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif untuk sampah residu yang tidak lagi dapat dimanfaatkan melalui pemilahan biasa.

“Tujuan kita memang mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan di DKI Jakarta. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat diharapkan semakin peduli untuk mengurangi dan mengolah sampah,” katanya.

Minister Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Kenji Enoshita, mengatakan salah satu pelajaran penting dari Jepang adalah bagaimana pengelolaan sampah dibangun dari kebiasaan individu.

Menurutnya, edukasi mengenai pemilahan sampah perlu dilakukan sejak lingkungan terkecil, termasuk keluarga dan sekolah. Kebiasaan tersebut kemudian diperkuat melalui sistem dan kolaborasi berbagai pihak.

Pendekatan itu dinilai relevan untuk dikembangkan di Indonesia karena pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan perusahaan atau pemerintah. Perubahan perilaku masyarakat menjadi fondasi agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan secara konsisten.

Sementara itu, sampah yang terkumpul dalam SPOGOMI Jakarta 2026 selanjutnya ditimbang dan dipilah sebelum dikelola lebih lanjut oleh Jangjo sebagai bagian dari pengelolaan sampah kegiatan.

Kegiatan ini didukung Jangjo sebagai vendor partner dan Transjakarta sebagai mobility partner, serta Panasonic, Bank Resona, Bank J Trust, AEON Indonesia, Bridgestone Mining Solutions Indonesia, Indofood, Meta Propolis, Nata Cafe & Bakery, dan Coway International.

SPOGOMI Jakarta 2026 diselenggarakan AEON Delight Indonesia (PT Sinar Jernih Sarana) dengan menggandeng pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat didekatkan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat. Dari satu sampah yang dipungut, satu kebiasaan memilah, hingga satu lingkungan yang lebih peduli, perubahan perilaku dapat dibangun secara bertahap.

Bagi Jakarta yang menghasilkan timbulan sampah dalam jumlah besar setiap hari, kebiasaan sederhana dari warga menjadi bagian penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus menjaga kualitas ruang publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *