Home / News flash / Gagal IVF, Irish Bella Gapai Asa Baru di Alhaya Fertility Kuala Lumpur

Gagal IVF, Irish Bella Gapai Asa Baru di Alhaya Fertility Kuala Lumpur

Marketplus.id — Perjalanan program bayi tabung tidak hanya menjadi tantangan secara fisik, tetapi juga emosional. Hal tersebut dibagikan Irish Bella dalam acara The Alhaya Fertility Journey 2026 di Jakarta, yang mempertemukan keluarga-keluarga Indonesia dengan tim Alhaya Fertility Kuala Lumpur.

Dalam talkshow yang dipandu Mizz Rosie, Founder Menuju Dua Garis, Irish menceritakan perjalanan dirinya dan suami yang sebelumnya telah mencoba inseminasi sebanyak dua kali, kemudian menjalani program IVF selama kurang lebih satu tahun.

Irish juga sempat mengalami kegagalan IVF di klinik sebelumnya. “Rasanya campur aduk. Bukan hanya secara fisik karena sakit, tetapi secara emosi juga luar biasa. Saat stimulasi hormon, mood swing itu sangat terasa,” ungkap Irish.

Pengalaman tersebut membuat Irish dan suami kembali mencari pilihan terbaik. Salah satu pertimbangan sang suami adalah keinginan agar program ditangani oleh dokter perempuan, termasuk tim yang menangani prosedur dan tindakan medis.

Awalnya, Irish dan suami belum mengenal Alhaya Fertility maupun dokternya. Melalui rekomendasi dan pendampingan TripMedis, keduanya kemudian dipertemukan dengan tim Alhaya Fertility dan Dr. Wan Syahirah Binti Yang Mohsin (Dr. Sera).

Irish menjalani dua siklus IVF di Alhaya. Pada siklus pertama, sudah berhasil diperoleh embrio, meskipun belum banyak. Namun, hasil tersebut menunjukkan perkembangan dibandingkan IVF sebelumnya yang tidak menghasilkan blastokista sama sekali.

Pada siklus berikutnya, tim medis menerapkan pendekatan yang berbeda dan berhasil memperoleh hasil yang lebih baik.

Menurut Dr. Sera, pasien yang sebelumnya tidak berhasil mendapatkan blastokista membutuhkan evaluasi dan strategi yang lebih individual. Selain penyesuaian protokol stimulasi, obat dan dosis, Alhaya juga menggunakan teknologi laboratorium embriologi seperti Embryoscope+ Timelapse dan AI Scoring untuk mendukung proses IVF. Selain itu, penggunaan PICSI digunakan untuk seleksi sperma yang lebih berkualitas, sementara GX-Media mendukung perkembangan embrio dalam lingkungan kultur yang optimal.

Bagi Irish, salah satu bagian paling stressful dalam program bayi tabung adalah ketidakpastian. “Saya tidak suka hal-hal yang tidak pasti,” ujarnya.

Karena itu, menurut Irish, kecocokan dengan dokter dan dukungan emosional menjadi sangat penting. “Menurut saya, kita harus cocok dengan dokternya. Dokternya harus support sama kita. Dalam program hamil banyak sekali uncertainty, karena itu dukungan sangat penting,” kata Irish.

Mizz Rosie juga menambahkan bahwa dalam perjalanan program hamil terdapat banyak hal yang memang tidak dapat dikontrol oleh pasangan.

Dr. Sera menegaskan bahwa IVF tidak pernah dapat menjanjikan keberhasilan 100 persen. Namun, dokter dan pasien dapat bekerja sebagai sebuah tim untuk memberikan upaya terbaik dengan teknologi dan kepakaran yang tersedia.

Menurut Dr. Sera, Irish dan suami merupakan pasangan yang sangat kooperatif dan terbuka berdiskusi mengenai rencana program. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan IVF.

Bagi Irish, dukungan juga datang dari keluarga. Ia menceritakan bagaimana suami dan anaknya turut membantu selama proses, termasuk ketika harus menjalani suntikan.

“Saya sangat bersyukur. Alhamdulillah, Tuhan mempertemukan saya dengan Dr. Sera, dokter perempuan yang Masya Allah luar biasa, bukan hanya mendampingi secara medis tetapi juga secara emosional. Saya sangat merekomendasikan Dr. Sera,” ujar Irish.

Acara ini juga menjadi momen istimewa dengan hadirnya lima bayi yang lahir dari program IVF bersama Dr. Wan Syahirah di Alhaya Fertility selama dua tahun terakhir, bersama keluarga mereka.

Dari sisi layanan, Alhaya Fertility Kuala Lumpur kini telah memperoleh akreditasi RTAC (Reproductive Technology Accreditation Committee), sebagai pengakuan internasional terhadap komitmen dalam memberikan layanan fertilitas yang aman, berkualitas dan berstandar tinggi.

Apdal dari Marketing Alhaya Fertility menegaskan bahwa teknologi dan standar medis merupakan bagian penting, tetapi pendampingan terhadap pasien tetap menjadi prioritas.

“Yang paling penting adalah memastikan setiap pasien merasa didampingi, didengar, dan diberikan perawatan terbaik sepanjang perjalanan mereka.”

Sementara itu, David, Direktur TripMedis, mengatakan bahwa selama hampir 10 tahun TripMedis telah membantu pasien Indonesia menemukan rumah sakit dan dokter yang sesuai dengan kebutuhan mereka di Malaysia, termasuk pasangan yang menjalani program bayi tabung dan membutuhkan layanan dengan tingkat privasi yang lebih tinggi.

Tagged:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *