Marketplus.id — Bitcoin kembali menjadi perhatian pasar setelah menembus US$87.395, level tertinggi dalam sekitar 8 bulan sejak Januari 2026.
Kenaikan ini terjadi hanya selang beberapa hari setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada 16 September 2026, membuat pergerakan Bitcoin semakin menarik perhatian di tengah tekanan suku bunga dan ketidakpastian geopolitik.
Sulianto Indria Putra, analis pasar crypto dan Founder Trade With Suli, melihat pola yang menarik pada pergerakan Bitcoin saat ini. Menurutnya, kombinasi pola harga, kondisi likuiditas, dan perubahan perilaku investor membuka kemungkinan bahwa Bitcoin dan pasar crypto mulai memasuki fase baru yang dapat berlanjut hingga 2027–2028.
Pola 2022 Kembali Terlihat, Bottom Dinilai Datang Lebih Awal
Menurut Sulianto Indria Putra, Bitcoin menunjukkan rangkaian pola yang serupa dengan fase 2021–2022, mulai dari pengujian trendline, sweep low atau false breakdown, hingga breakout.
Ia mengingatkan bahwa pada 2022, sempat muncul perkiraan bahwa Bitcoin masih akan jatuh ke kisaran US$8.000–10.000, tetapi periode tersebut justru menjadi awal dari bull run. Dari kemiripan pola itu, ia menilai sekitar 90% titik terendah siklus telah terbentuk.
Konfirmasi yang ia perhatikan cukup sederhana, yaitu weekly close di atas US$83.000. Ia juga melihat pola four-year cycle klasik mulai kurang relevan untuk membaca siklus saat ini.
Jika mengikuti pola historis, bottom seharusnya terjadi sekitar Oktober, sementara kali ini dinilai datang lebih awal. Menurutnya, siklus crypto kini tidak lagi hanya digerakkan oleh halving, tetapi juga oleh likuiditas dan perilaku investor institusi.
Bitcoin Tetap Menguat di Tengah Tekanan Makro
Pergerakan Bitcoin menjadi semakin menarik karena terjadi di tengah tekanan makro yang cukup kuat. Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4%, sementara dolar AS menguat, yield US Treasury 10 tahun berada di level tinggi, dan harga minyak sempat mendekati US$100 per barel di tengah ketegangan geopolitik. Nilai tukar USD/IDR juga sempat menyentuh sekitar Rp17.800.
Dalam kondisi seperti ini, aset berisiko secara teori menghadapi tekanan lebih besar karena kenaikan suku bunga membuat instrumen seperti Treasury relatif lebih menarik.
Namun, Bitcoin justru menyentuh US$87.395 pada 21 September, level tertinggi dalam lebih dari 240 hari sejak Januari 2026.
Sulianto Indria Putra melihat ketahanan tersebut sebagai salah satu sinyal bahwa struktur permintaan Bitcoin mulai berubah, terutama dengan semakin besarnya peran investor institusional.
Perubahan ini juga terlihat dari arus dana ETF Bitcoin spot AS. Setelah sekitar sepekan mencatat outflow, BlackRock IBIT dan Fidelity FBTC kembali menerima inflow pada 17–18 September.
Pada 18 September, total inflow mencapai sekitar US$433 juta, dengan sekitar US$310,7 juta masuk ke FBTC dan US$108,4 juta ke IBIT.
Menurut Sulianto Indria Putra, arus dana tersebut menunjukkan bahwa sebagian investor mulai mempertimbangkan Bitcoin di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, bukan semata sebagai aset spekulatif.
Dari Tokenisasi hingga DeFi, Narasi 2027 Mulai Terbentuk
Memasuki kuartal IV 2026, Sulianto Indria Putra melihat tokenisasi aset mulai mendapatkan momentum. Perluasan jam perdagangan Nasdaq dan regulasi stablecoin melalui GENIUS Act menjadi katalis yang menurutnya dapat mempercepat adopsi aset berbasis blockchain.
GENIUS Act sendiri dijadwalkan berlaku paling lambat 18 Januari 2027, atau lebih awal jika aturan pelaksanaannya diterbitkan sebelum tanggal tersebut.
Setelah tokenisasi, ia memperkirakan perhatian pasar dapat bergeser ke stablecoin sebagai infrastruktur, lalu berlanjut ke DeFi sebagai turunannya pada kuartal I hingga II 2027. Ia menyebutnya sebagai elevator concept, yaitu narasi yang paling dekat dengan katalis berpotensi bergerak lebih dulu, sementara narasi turunannya menyusul.
Dalam konteks tersebut, beberapa proyek yang masuk dalam watchlist analisis Sulianto Indria Putra antara lain ONDO, XPL, Morpho, Pendle, Curve, dan Hyperliquid.
Ia menilai investor ritel belum kembali sepenuhnya ke pasar dan euforia yang lebih besar baru berpotensi muncul ketika Bitcoin mencapai kisaran US$100.000–120.000. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu pembeda siklus saat ini dari periode sebelumnya.
Penting untuk dicatat, daftar aset tersebut merupakan pandangan dan watchlist analis, bukan rekomendasi investasi. Setiap target harga atau proyeksi kenaikan yang disampaikan Sulianto Indria Putra juga merupakan pandangan pribadi dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu.
Pernah Dihujat, Sulianto Indria Putra Ingatkan Investor untuk Tidak FOMO
Saat membuka posisi Hyperliquid di sekitar US$40, keputusan Sulianto Indria Putra sempat mendapat kritik dari publik karena dianggap terlalu dini. Kini, ketika harganya berada di sekitar US$95, pengalaman tersebut menjadi pengingat baginya bahwa keputusan investasi tidak seharusnya dibuat karena FOMO.
Menurutnya, salah satu kesalahan investor ritel adalah masuk karena FOMO ketika harga sudah naik, lalu menjualnya saat harga turun. Baginya, momentum akan selalu datang, sehingga ketinggalan satu momen bukanlah suatu masalah. Terlebih, ia melihat bull run masih dapat berlangsung 1–2 tahun ke depan, sehingga tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Cara pandang tersebut menjadi bagian dari pendekatan Trade With Suli, komunitas edukasi crypto dan trading di Indonesia yang membantu anggotanya membaca siklus melalui data on-chain, arus ETF, kondisi makro, dan pola harga.
Pendekatan ini tercermin dari tesis Hyperliquid yang dibagikan Sulianto Indria Putra saat harganya sekitar US$40 pada Mei 2026, serta posisi cicil sejak Oktober 2025 yang, berdasarkan data yang ia bagikan, berkembang dari sekitar Rp3 miliar menjadi Rp7,4 miliar.
Babak Baru Pasar Crypto di Tahun 2027
Perubahan siklus dan peluang narasi crypto menuju 2027 tersebut juga akan dibahas Sulianto Indria Putra dalam Webinar Crypto Narrative 2027.
Dalam sesi tersebut, ia akan memaparkan sejumlah narasi crypto yang dinilai berpotensi berkembang pada siklus 2027–2028, termasuk peluang pada pasar altcoin.
Sebagai pendiri Trade With Suli, ia melihat perubahan siklus bukan alasan untuk terburu-buru mengejar harga. Justru ketika market masih sepi dan euforia belum terbentuk, ada ruang untuk membaca data, memahami risikonya, dan mempersiapkan diri. Menurutnya, 2027 bukan sekadar pergantian tahun, tetapi berpotensi menjadi awal dari babak baru bagi Bitcoin dan pasar crypto.





