Marketplus.id – Indonesia dikenali sebagai bangsa memiliki keberagaman. Saat ini, Indonesia memiliki 274 juta jiwa penduduk, 1.340 suku, dan 764 bahasa daerah. Dengan jumlah pengguna terkoneksi dengan internet sebanyak 202,6 juta jiwa, dan 170 juta di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial.
Namun, tingkat penyebaran radikalisme di Indonesia melalui media sosial cukup tinggi. Zulham Mubarak, Ketua Umum Milenial Utas, Komisaris PT. Agranirwasita Technology, mengatakan bahwa sejak 2018, Indonesia sedang menghadapi digitalisasi terorisme. Kita merupakan negara dengan persebaran akun media sosial radikalisme terbesar di dunia.
“Hal yang menarik lagi, ternyata kejahatan siber di Indonesia sejak Januari – Maret 2021 sudah mencapat 9 juta laporan. Sepanjang 2020, kerugiannya sebanyak 47,6 triliun,” papar Zulham, saat menjadi pembicara pada Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (7/7/2021).
Era yang saat ini kita jalani merupakan era revolusi industri 4.0. Merupakan pola yang menggunakan big data dan wireless connectivity. Kemudian, kalau dulu manusia itu juga memproduksi alat. Saat ini, semua produksi dapat dilakukan dengan mesin. Beberapa mesin di antaranya dapat menggantikan peran manusia secara digital pada New Society 5.0 nanti.
“Pengetahuan digital yang saat ini paling penting untuk diketahui masyarakat adalah mesin pencarian informasi. Perlu diketahui, selama ini kita mengakses data dari mesin pencarian hanya berkisar 4% dari keseluruhan data yang ada di internet. Komponen terbesar internet ternyata ada di deep web sebesar 90%. Deep web tidak bisa diakses dengan browser biasa dan membutuhkan browser khusus,” tambahnya.
Ia menjelaskan, mesin pencarian ini bukan hanya Google, lainnya ada Yahoo, Bing, Yandex, Duck Duck Go, dan sebagainya. Beberapa negara juga ada yang memiliki regulasi untuk melarang penggunaan Google.
Selain mesin pencarian, aplikasi lainnya yang mendukung kemajuan dunia digital ialah Zoom. Dengan Zoom orang dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara virtual. Kemudian terdapat Google Hangout, aplikasi ini belum familiar digunakan orang-orang di Indonesia. Kalau pada Zoom pertemuan dibatasi waktu, Google Hangouts tidak menyediakan batasan waktu. Namun, maksimal partisipan pengguna Google Hangouts hanya 10 orang.
Adanya internet tidak meminimalisir kejahatan yang terjadi. Sebaliknya, dengan adanya internet timbul jenis kejahatan siber yang jauh lebih membahayakan seperti pencurian data. Kejahatan siber yang dipaparkan oleh Zulham selaku pembicara adalah cyber bullying, cyber fraud, porn, cyber gambling, dan cyber stalking.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (7/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara Pipit Andriani (International Debate and Public Speaking Coach), Puspo Hudyatmoko (Asesor Kompetensi, Manager Operasional LPKS Parco Land, DIgital Marketing di Namoku Creative), Evelyn Natashia (Former Senior Market & Partnership Traveloka), dan Sandhi Restiawan.