10 Maret 2026
25-insights-indonesian-workforce-embrace-return-office-policies copy

Ilustrasi foto; JLL

Marketplus.id – JLL Indonesia merilis temuan terbaru Workforce Preference Barometer yang menunjukkan bahwa Indonesia menjadi pemimpin global dalam penerapan kebijakan kembali ke kantor (return-to-office/RTO).

Berdasarkan temuan dari hasil riset JLL Workforce Preference Barometer menunjukkan bahwa  sebanyak 87% karyawan korporasi di Indonesia kini bekerja di bawah mandat RTO atau skema hybrid terstruktur, tertinggi di dunia dan hampir dua kali rata-rata Asia Pasifik.

Temuan ini menegaskan perubahan penting dalam dinamika pasar perkantoran nasional, seiring meningkatnya kembali aktivitas kerja fisik dan pulihnya permintaan terhadap ruang kantor berkualitas tinggi, khususnya di gedung premium di Jakarta.

Tingkat RTO Karyawan di Indonesia Tertinggi di Dunia

Hampir dua pertiga pekerja Indonesia diwajibkan bekerja dari kantor penuh waktu, jauh lebih tinggi dibanding pasar hybrid seperti Australia dan Singapura. Tingginya tingkat kehadiran ini mendorong pemulihan pasar perkantoran. Kini, tekanan dari sisi suplai mulai mereda. Gelombang pembangunan gedung perkantoran baru telah berakhir, sementara permintaan mulai pulih secara bertahap terutama untuk gedung Grade A berkualitas premium.

Permintaan ruang kantor pada kuartal IV 2025 tercatat sebagai yang terkuat sejak kuartal III 2019. Dengan tidak adanya tambahan pasokan baru hingga 2028, ruang tersedia di gedung premium di Jakarta diperkirakan semakin terbatas dalam beberapa tahun ke depan.

Menurut James Taylor, Kepala Departemen Riset JLL Indonesia, tren ini menjadi sinyal positif bagi siklus pasar perkantoran. “Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang kuat. Tingginya kebijakan kembali ke kantor mulai mengurangi tingkat kekosongan, terutama di gedung Grade A. Dengan pasokan baru yang terbatas dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan yang membutuhkan ruang berkualitas tinggi perlu mengambil keputusan lebih cepat untuk mengamankan lokasi strategis,” ujarnya.

Karyawan Antusias Kembali ke Kantor, Harapkan Kualitas Kerja yang Lebih Baik Lagi

Kembalinya aktivitas kerja ke kantor tidak dipandang sebagai beban bagi mayoritas pekerja di Indonesia. Survei terbaru menunjukkan hampir 90% karyawan Indonesia memiliki sentimen positif terhadap kerja di kantor, jauh di atas rata-rata global yang berada di angka 72%.

Sebanyak tiga perempat pekerja kantor di Indonesia juga menilai kolaborasi tatap muka membuat mereka bekerja lebih efektif, dibandingkan rata-rata global yang hanya 50%. Bahkan, lebih dari separuh responden menyatakan preferensi bekerja langsung dari tempat kerja perusahaan.

Namun, meningkatnya kehadiran di kantor turut diiringi ekspektasi baru dari karyawan. Sekitar dua pertiga pekerja Indonesia menginginkan peningkatan fasilitas kantor sebagai imbal balik atas kehadiran mereka jauh lebih tinggi dibanding rata-rata global yang hanya 39%.

Sejumlah perusahaan mulai merespons tuntutan tersebut dengan meningkatkan kualitas ruang kerja, menghadirkan teknologi yang lebih canggih, menyediakan tunjangan tambahan, serta melakukan pembaruan desain dan fasilitas kantor. Meski demikian, masih terdapat kesenjangan antara janji perusahaan dan harapan karyawan, khususnya terkait kualitas fasilitas serta fleksibilitas jam kerja.

Permintaan fleksibilitas juga tidak terbatas pada pengaturan waktu kerja. Meski umumnya karyawan merasa nyaman kembali ke kantor, banyak yang ingin tetap mempertahankan sebagian fleksibilitas yang mereka nikmati selama masa pandemi. Lebih dari separuh pekerja Indonesia menginginkan skema kerja fleksibel, tetapi saat ini fasilitas tersebut baru tersedia bagi sekitar 44% tenaga kerja.

Indonesia Unggul dalam Kesiapan AI, Tapi Hadapi Kesenjangan Antargenerasi

Kesiapan tenaga kerja di Indonesia dalam menghadapi era kecerdasan buatan (AI) dinilai lebih unggul dibanding negara lain di kawasan Asia Pasifik. Sekitar 76% pekerja Indonesia tercatat telah menerima pelatihan penggunaan aplikasi berbasis AI, angka ini tertinggi di antara pasar regional.

Tingginya partisipasi dalam program pelatihan AI dipandang sebagai sinyal positif, sekaligus mencerminkan karakter demografis Indonesia yang relatif muda dan dinamis. Namun, di balik capaian tersebut, muncul tantangan baru terkait kesenjangan kesiapan antar generasi.

Sebagian besar karyawan generasi muda, khususnya Gen Z di kawasan Asia Pasifik, merasa telah mendapatkan pelatihan yang memadai untuk menggunakan teknologi AI. Sebaliknya, hanya sekitar 15% pekerja berusia di atas 50 tahun yang merasa memiliki tingkat kesiapan serupa. Kondisi ini memunculkan risiko sebagian kelompok tenaga kerja tertinggal dalam proses transformasi digital.

Strategi Workplace Jadi Faktor Penentu Daya Saing Bisnis

Perubahan pola kerja pascapandemi mendorong peran pengelolaan ruang kerja menjadi semakin strategis. Corporate real estate kini semakin terintegrasi dengan kebijakan sumber daya manusia, terutama dalam mendukung produktivitas, pengalaman karyawan, dan desain organisasi kerja hybrid.

Investasi pada fasilitas wellness, ruang kolaboratif, serta lingkungan pembelajaran teknologi menjadi faktor penting yang perlu diukur dampaknya terhadap retensi talenta, kepuasan karyawan, dan kinerja organisasi.

Menurut Kepala Departemen Office Leasing JLL Indonesia, Rosari Chia menyebut perubahan ekspektasi tenaga kerja telah mengubah cara perusahaan memandang kantor secara fundamental. “Perusahaan kini melihat kantor bukan lagi sekadar tempat bekerja, tetapi sebagai aset strategis yang berperan langsung dalam produktivitas, inovasi, dan daya saing bisnis.” ujar Rosari. Lebih lanjut, Chia menjabarkan permintaan terhadap ruang berkualitas tinggi terus meningkat karena perusahaan membutuhkan workplace yang mampu mendukung eksistensi karyawan, “Kolaborasi, pengalaman karyawan, juga identitas kantor secara tidak langsung mendukung strategi jangka panjang organisasi,” jelasnya.

Dengan meningkatnya kehadiran pekerja ke kantor dan berubahnya ekspektasi tenaga kerja, perusahaan dituntut menata ulang strategi ruang kerja agar selaras dengan kebutuhan bisnis masa depan.

Workforce Preference Barometer JLL merupakan survei global yang melibatkan 3.100 pekerja di sembilan pasar Asia Pasifik dari berbagai sektor, termasuk jasa keuangan, teknologi, manufaktur, dan institusi publik. Survei ini juga mencakup 150 responden korporasi di Indonesia, yang hasilnya diharapkan dapat menjadi acuan bagi penyewa dan investor dalam menyusun strategi properti komersial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *