Marketplus.id – Banyak sekali alasan yang membuat masyarakat akhirnya memilih belanja online sebagai solusi pemenuhan kebutuhan hidupnya. Selain tidak perlu capek-capek pergi ke toko dan memilih barang. Beberapa keuntungan lain seperti kemudahan dalam belanja karena dilengkapi sistem yang baik, banyak pilihan toko dan barang kebutuhan, harga bersaing, dan proses pengiriman yang cepat juga menjadi alasannya. Bahkan, masyarakat juga dipermudah dengan fasilitas return atau kembalikan barang jika pesanannya kurang sesuai.

Hal itu diungkapkan, Fadh Rian Khoirul A, Sharia Account Executive Surabaya Outer LinkAja, saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Senin (2/8/2021).

Lanjutnya, belanja online dan transaksi nontunai memiliki banyak keuntungan bila dilakukan dengan sistem keamanan yang optimal. Apalagi dengan berkembangnya teknologi saat ini, yang membuat kebiasaan belanja dan membayar masyarakat mulai berubah dari tradisional ke online.

“Oleh karena itu, tidak heran belanja online menjadi tren yang digemari, terlebih di masa pandemi belanja online menjadi solusi alternatif,” katanya.

Ia menambahkan, dengan metode pembayaran seperti itu, konsumen cukup melihat nominal pembayarannya apakah sudah sesuai dengan barang yang dibelanjakan. Setelah itu, konsumen tinggal menyetujui pembayaran dan melakukan beberapa konfirmasi, tanpa perlu repot menyiapkan uang tunai untuk menyelesaikan transaksi.

“Dibanding transfer bank atau transaksi tunai, pembayaran nontunai tersebut sangatlah praktis dan menghemat waktu,” ujarnya.

Agar tetap aman dan nyaman saat berbelanja online atau melakukan transaksi nontunai, ada 3 tips yang bisa dilakukan, seperti:

  1. Belanja online di platform terpercaya.

Kebanyakan, kasus penipuan saat belanja online terjadi ketika transaksi dilakukan di luar platform terpercaya. Dengan berbelanja di platform terpercaya, seperti Shopee, kejadian seperti itu dapat dihindari. Platform belanja online terpercaya memiliki sistem canggih untuk melindungi pembeli atau penjual dari penipuan.

  1. Rutin ganti kata sandi dan tidak membagikan kode OTP

Salah satu kekhawatiran menyimpan uang di e-wallet adalah peretasan. Namun, peretasan sebenarnya bisa dihindari. Cara untuk menghindari peretasan, salah satunya adalah rutin mengganti kata sandi, setidaknya sebulan sekali. Andai peretas tahu kata sandi, ia masih belum bisa membobol e-wallet karena masih ada One Time Password (OTP) yang harus dimasukkan.

  1. Menjaga rahasia data pribadi.

Untuk meminimalkan risiko peretasan atau pencurian di akun e-wallet, satu hal yang harus dilakukan adalah menjaga rahasia data pribadi. Data itu meliputi alamat email, kata sandi, termasuk OTP, sehingga perlu kewaspadaan ketika ada pihak tertentu yang tiba-tiba menanyakan data tersebut. Dengan menjaga kerahasiaan data pribadi, peretas akan kesulitan untuk bisa membobol akun e-wallet. Terlebih, saat ini platform belanja online dan penyedia e-wallet makin canggih, sehingga tidak ada lagi celah pihak lain untuk melakukan peretasan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Senin (2/8/2021) juga menghadirkan pembicara Moh. Badruddin Amin (Dosen IAIN Madura), Aryo Hendarto (Founder Sajiwa & Caritempat.id), Ach Fatayilah Mursyidi (Peneliti CRCS & Penerjemah), dan Sari Kusumaningrum sebagai Key Opinion Leader.