Marketplus.id – Dengan kecanggihan teknologi yang ada, kini transaksi bisa dengan mudah dilakukan secara online. Waktu dan tempatnya pun tak terbatas, yang penting terkoneksi dengan internet. Apalagi dengan adanya smartphone, semua bisa dilakukan dalam genggaman.

“Kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan teknologi ini bukan tanpa risiko. Kini marak terjadi penipuan online, terutama bagi pengguna kartu kredit. Untuk menghindari kejadian buruk tersebut terjadi pada diri sendiri, ada beberapa hal yang perlu kamu pahami. Salah satu hal penting dalam transaksi online yang harus kamu pahami agar terhindar dari penipuan online atau fraud data adalah OTP,” ungkap Katherine Jioe, Wedding Planner at Varawedding saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Senin (16/8/2021).

OTP adalah singkatan dari One Time Password, sandi sekali pakai yang digunakan untuk transaksi online atau login akun yang berkaitan dengan pembayaran digital. OTP terdiri dari kombinasi angka unik dan rahasia yang dikirimkan bank kepada nasabah saat akan menggunakan kartu kredit dan aplikasi mobile banking-nya.

“Sesuai dengan namanya, kode ini hanya berlaku sekali saja dalam jangka waktu relatif pendek, biasanya berlaku selama 5 menit,” ujarnya.

Ia menerangkan, pada kartu kredit, OTP biasanya akan dikirimkan kepada pemegang kartu saat melakukan transaksi belanja online sesuai kesepakatan merchant dengan pihak kartu kredit.

“Sedangkan pada mobile banking, penerapan OTP ini sedikit berbeda dan biasanya masing-masing bank memiliki ketentuannya sendiri. Misalnya diberlakukan pada saat login aplikasi, ganti password, validasi transfer, dan lain-lain,” katanya.

Ia menjelaskan, kode OTP dirancang sebagai pengaman ganda. Sehingga tak ada pihak mana pun yang berhak meminta atau menggunakannya selain sang pemilik akun mobile banking atau kartu kredit.

“Keamanan ganda ini bisa berubah menjadi petaka saat pemilik akun atau kartu kredit memberikan kode OTP pada orang lain,” jelasnya.

Ia mencontohkan, korban akan menerima SMS berisikan kode OTP untuk transaksi atau login yang tidak mereka lakukan. Tak lama kemudian, pelaku akan menghubungi korban dengan berpura-pura menjadi customer service atau karyawan dari pihak bank.

“Biasanya untuk lebih meyakinkan korban, pelaku biasanya memberikan iming-iming berupa hadiah. Jika korban tidak mudah tergiur, mereka mulai memaksa dan mengancam,” paparnya.

Lanjutnya, setelah mendapat kode OTP dan memiliki akses ke mobile banking atau kartu kredit, pelaku bisa menyalahgunakan akun serta informasi pribadi korban untuk melakukan tindakan kriminal. Biasanya mereka akan mencuri dana di rekening tabungan atau menghabiskan limit kartu kredit korban. Tidak butuh waktu lama, tahu-tahu saja tagihan kartu kredit korban membengkak atau mendadak saldo di rekeningnya berkurang drastis.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Batu, Jawa Timur, Senin (16/8/2021) juga menghadirkan pembicara Eko Prasetyo (Co-Founder Syburst Corporation), Andik Adi Suryanto (Praktisi Pendidikan & Relawan TIK), Queena Fredlina (Relawan TIK Provinsi Bali & Kepala Kemahasiswan STMIK Primakara), dan Shinta Putri sebagai Key Opinion Leader.