Sad and depressed young Asian female office worker packing her stuff into a cardboard box in the office, quitting her job or getting fired from her boss. unemployment, resign, career failure
Marketplus.id – Jobstreet by SEEK menyoroti sejumlah pelajaran penting bagi profesional HR, pemimpin bisnis, dan praktisi people management dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin cepat, mulai dari pentingnya strategic workforce planning, pemetaan kapabilitas internal, hingga pemanfaatan AI secara lebih praktis dan bertanggung jawab. Insight ini disampaikan dalam perbincangan bersama Kevin Thompson, CEO & AI Transformation Architect – PEEPL, dalam episode keempat Power Talks oleh Jobstreet by SEEK.
Dirangkum dari diskusi tersebut, ada lima pelajaran utama yang relevan bagi perusahaan maupun profesional yang ingin membantu perusahaan menjadi lebih siap menghadapi masa depan.
1. Strategic workforce planning harus dimulai dari tujuan bisnis, bukan sekadar mengisi kursi kosong
Kevin menyoroti bahwa banyak pemimpin HR masih bekerja secara reaktif, yaitu baru merekrut ketika ada posisi yang kosong. Pendekatan seperti ini membuat perusahaan sulit membangun keberlanjutan jangka panjang karena keputusan tenaga kerja tidak benar-benar terhubung dengan arah bisnis.
Menurutnya, strategic workforce planning perlu dimulai dari pemahaman yang jelas terhadap visi CEO, prioritas bisnis, dan arah pertumbuhan perusahaan. Dengan begitu, fungsi HR tidak hanya merespons kebutuhan sesaat, tetapi ikut membantu perusahaan menyiapkan talenta yang dibutuhkan untuk masa depan.
2. Perusahaan perlu memahami skill yang sudah dimiliki dan yang akan dibutuhkan
Pilar kedua dari strategic workforce planning adalah workforce visibility. Perusahaan perlu memiliki gambaran yang lebih utuh tentang kemampuan yang sudah ada di dalam perusahaan, sekaligus kesenjangan kapabilitas yang harus ditutup agar tetap relevan di masa depan.
Tanpa visibilitas ini, perusahaan berisiko mengambil keputusan hiring atau development yang tidak tepat sasaran. Bagi HR leader, pemetaan skill menjadi fondasi penting agar strategi talenta benar-benar berbasis kebutuhan bisnis, bukan asumsi.
3. Rencana kebutuhan SDM yang efektif harus menggabungkan rekrutmen eksternal dan pengembangan internal
Setelah arah bisnis dan kondisi workforce dipahami, langkah berikutnya adalah menyusun rencana kebutuhan SDM yang lebih terstruktur. Kevin menjelaskan bahwa perusahaan perlu menentukan dengan lebih disiplin mana kapabilitas yang harus dicari dari luar, dan mana yang sebaiknya dibangun dari dalam melalui pengembangan.
Pendekatan ini membantu perusahaan mengelola biaya, mempercepat kesiapan SDM, dan membangun pipeline kemampuan secara lebih berkelanjutan. Dalam konteks bisnis yang berubah cepat, keseimbangan antara buy dan build menjadi semakin krusial.
4. AI bukan pengganti manusia, tetapi penguat kualitas keputusan HR
Dalam pandangan Kevin, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk membuat keputusan yang lebih cepat dan lebih informasional, bukan sebagai pengganti manusia. AI dapat membantu mengintegrasikan data dari berbagai sistem seperti LMS (learning management system), HRIS (human resource information system), dan platform lainnya agar perusahaan memiliki pandangan yang lebih menyeluruh terhadap kondisi tenaga kerja.
Namun, ia juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan etika dan judgment manusia. Karena itu, nilai terbesar AI justru muncul ketika teknologi digunakan untuk memperkuat kualitas analisis, sementara keputusan penting tetap dijalankan dengan pertimbangan manusia.
5. Transformasi AI dan workforce planning tidak perlu dimulai dari perubahan besar sekaligus
Salah satu pesan paling praktis dari Kevin adalah pentingnya memulai. Alih-alih terlalu lama berdiskusi atau mencoba merombak seluruh perusahaan dalam satu langkah, perusahaan sebaiknya memulai dari pilot kecil di satu fungsi atau departemen, lalu belajar dan melakukan iterasi dari sana.
Pendekatan ini membuat implementasi menjadi lebih realistis, lebih rendah risiko, dan lebih mudah mendapatkan pembelajaran nyata. Pola pikir “mulai aja dulu” juga menjadi pengingat bahwa transformasi yang baik tidak selalu dimulai dari rencana yang sempurna, tetapi dari keberanian untuk mencoba, belajar, dan memperbaiki.
“AI bukan untuk menggantikan manusia. Tapi AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakan AI,” ungkap Kevin Thompson.
Kevin juga menekankan bahwa ada satu hal mendasar yang tetap tidak bisa digantikan oleh teknologi. “Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh AI adalah etika. Etika di balik sebuah keputusan. Kita bisa mendapatkan lebih banyak data dengan bantuan AI, tetapi berdasarkan data tersebut, tetap ada etika di balik keputusan yang harus kita ambil,” tambahnya.
Sementara itu, Sawitri, Head of Country Marketing Jobstreet by SEEK Indonesia, menyoroti bahwa transformasi HR dan ketenagakerjaan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. “Masa depan ketenagakerjaan tuh harus high tech, tapi juga jangan lupa harus deeply human,” ujarnya.
Sawitri mengatakan bahwa percakapan ini menunjukkan bagaimana HR saat ini dituntut untuk bergerak lebih strategis, tidak hanya dalam perekrutan, tetapi juga dalam membaca arah bisnis, memetakan kapabilitas, dan memanfaatkan teknologi secara lebih cerdas.
“Insight ini menegaskan bahwa masa depan HR tidak hanya soal mengadopsi AI, tetapi tentang bagaimana menggabungkan teknologi, data, komunikasi, dan judgment manusia untuk membangun perusahaan yang lebih siap menghadapi perubahan. Ini menjadi sangat relevan bagi perusahaan yang ingin bertumbuh secara berkelanjutan di tengah dinamika dunia kerja saat ini,” pungkas Sawitri.