Marketplus.id – Situs media jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Google+, LinkedIn, MySpace, Foursquare, Instagram, Second Life, dan lain-lainnya memang memungkinkan penggunanya untuk saling terkoneksi.

“Namun, media jejaring sosial itu juga dapat menjadi bumerang bagi penggunanya, jika dipergunakan tidak pantas,” ujar Clara Marisa Purnamasari, Associate Wealth Planner & Internasional Campus Ambasador, saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Selasa (24/8/2021).

Berikut lima sebab reputasi para pengguna dapat hancur dengan akun media jejaring sosial miliknya, seperti:

  • Tidak menghargai pihak lain

Media jejaring sosial bukanlah tempat untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain. Hal itu tidak ada bedanya dengan berteriak pada seseorang di ruang publik atau menaikkan suara pada karyawan toko eceran. Perbuatan itu tentu akan mendapat perhatian dari orang lain, tapi itu bukan perhatian yang diinginkan semua orang. Jika ada pihak lain yang mencela Anda di media jejaring sosial, solusinya dengan menghapus komentar negatif, memblokir akun tertentu, dan memutuskan apakah akan menanggapi isu itu atau tidak memperdulikannya.

  • Gagal untuk promosikan pihak lain

Jika membangun bisnis dan mengembangkan jaringan yang kuat, Anda akan ingin untuk mengembangkan reputasi sebagai seseorang menyoroti orang lain. Hal itu tidak hanya akan memberikan kredit usang, tapi juga mengkomunikasikan bahwa Anda sudah aman dengan kesuksesan dan seolah punya kemampuan untuk mempromosikan orang lain dalam industri.

  • Tidak membalas komentar

Tidak membalas komentar pada blog atau akun media jejaring sosial tidak berbeda dengan memulai percakapan dengan seseorang kemudian mengabaikan respon mereka. Secara aktif memantau komentar dan pertanyaan yang ditujukan pada akun kita memang dapat menyita waktu, tapi dengan mempublikasikan satu komentar pada tiap pesan yang dipublikasikan sebelumnya menunjukkan kepedulian pemilik akun dengan pihak lain.

  • Ditautkan pada foto-foto yang meragukan

Berpikirlah dua kali untuk membiarkan diri Anda ditautkan pada foto-foto yang meragukan. Sebagai pemilik bisnis, berhati-hatilah tentang bagaimana Anda ingin dianggap oleh publik.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Selasa (24/8/2021) juga menghadirkan pembicara Moh. Jufri (Founder Gubuk Inggris), Achmad Vicky Faisal (Ketua Umum ASPRIM), Muis Pranoto (Founder Fajar Langgu), dan Anjani Adyalaksmini (CMO at PT. Laksmindo Bahtera) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

 

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.