Marketplus.id – Uang elektronik perlahan telah menggeser posisi vital duit tunai dalam perdagangan dan kehidupan masyarakat. Perkembangan pesat e-commerce dan tingginya volume transaksi jual beli secara daring belakangan ini menjadikan layanan dompet digital kian ramai digunakan.

“Tak hanya mudah digunakan, insentif yang ditawarkan dari penggunaan layanan dompet digital, seperti potongan harga hingga pengembalian uang (cashback), seringkali menggiurkan. Selain itu, pandemi Covid-19 yang membatasi transaksi fisik masyarakat juga turut mendorong digitalisasi. Akibatnya, penggunaan uang elektronik pun menjadi sering dilakukan. Maka tidak heran jika jumlah transaksi uang elektronik saat ini sudah hampir sama dengan lewat ATM,” ungkap Khemal Andrias, CEO Next Generation Indonesia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (13/9/2021).

Di Indonesia, uang elektronik bisa diterbitkan oleh bank dan nonbank. Untuk nonbank, beberapa contoh uang elektronik yang seringkali digunakan masyarakat adalah Gopay, OVO, dan Dompet Digital Indonesia (Dana).

Ia menjelaskan, meski sudah banyak digunakan, sayangnya, jaminan keamanan saldo uang tersebut masih belum jelas. Belum ada aturan jelas mengenai siapa yang mengatur pengawasan saldo uang elektronik.

“Ketiadaan jaminan perlindungan ini mengharuskan masyarakat untuk ekstra hati-hati dalam menjaga saldo uang elektronik mereka di dompet digital supaya tidak dimaling orang,” jelasnya.

Untuk menghindari ancaman pembobolan saldo e-wallet, berikut beberapa tip yang bisa dilakukan:

  • Buat Anggaran Dompet Digital

Hal pertama yang harus dilakukan agar saldo uang elektronik tak kebobolan adalah membuat anggaran dompet digital bulanan. Ini memiliki banyak manfaat. Pertama, bisa mengontrol dan membuat tidak kebablasan dalam menggunakan uang elektronik. Kedua, perencanaan anggaran dibuat untuk memastikan tak ada saldo mengendap di dompet digital yang rentan dicuri. Dalam membuat anggaran, harus mengidentifikasi dulu apa saja pengeluaran rutin yang dibayarkan lewat dompet digital. Pengeluaran itu misalnya, transportasi, konsumsi, dan pembayaran rutin seperti listrik, air, pulsa/internet.

  • Hanya Top Up Saat Perlu

Meski idealnya memiliki budget, namun untuk mereka yang tak suka menyiapkan anggaran bulanan, dapat mengontrol pengeluaran lewat pengisian saldo secara minimal. Metode ini sangat disarankan untuk mengerem pengeluaran bagi mereka yang kerap merasa ‘gatal’ menghabiskan saldo di dompet digitalnya.

  • Catat Biaya Top Up

Dalam banyak kasus, pengguna kehilangan kontrol terhadap pengeluaran yang dibayar lewat dompet digital karena sering melakukan top up dengan nominal kecil yang kalau ditotal jumlahnya mengejutkan. Karena tarif pengisian terbilang murah yaitu di kisaran Rp 1.000 hingga Rp 2.500 per transaksi, pengguna kerap mengabaikan biaya administrasi.

  • Hindari Menggunakan Fasilitas Kredit

Berbagai penyedia jasa menawarkan jasa kredit atau cicilan berkala yang dikenal dengan paylater. Meski menggiurkan, namun fasilitas ini bisa jadi malah membuat buntung karena mendorong perilaku konsumtif.

  • Pastikan E-wallet Anda Terproteksi

Pembobolan saldo selalu menjadi bayang-bayang pengguna dompet digital. Saldo Anda bisa saja dikuras oleh peretas yang sayangnya hingga saat ini belum diregulasi pemerintah. Oleh karena itu, pengguna untuk senantiasa meningkatkan proteksi keamanan datanya. Pengguna harus berhati-hati dan tidak menggantungkan nasibnya kepada penyedia layanan.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (13/9/2021) juga menghadirkan pembicara Agus Gunawan (Bidang Kesekretariatan Relawan TIK Jawa Timur), Felix Kusmanto Bpsych (Dosen Psikologi dan Pengamat SDM), Febriyanti Mega Kristiani (Founder @vitaminmonster), dan Ibrahim Hanif sebagai Key Opinion Leader.