Marketplus.id – Cyberbullying akhir-akhir ini marak terjadi di dunia digital. Banyak korban yang akhirnya terdampak hingga menurunnya kesehatan mental. Sayangnya, masih banyak juga pelaku bullying yang tidak sadar dampak perbuatannya terhadap korban.

Cyberbullying merupakan perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital, seperti media sosial, medai pesan, ponsel dengan tujuan untuk menakuti korban, membuat marah, atau mempermalukan,” papar Ziadatul Hikmia seorang dosen psikologi di Universitas Brawijaya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin (13/9/2021).

Jenis cyberbullying ini pun beragam, mulai dari trolling, doxing, exclusion, harassment, cyberstalking, hingga impersonating. Trolling merupakan komentar yang sengaja dibuat untuk memicu amarah atau memprovokasi. Doxing merupakan penyebaran informasi pribadi sensitif milik orang lain. Exclusion yakni pengucilan terhadap seseorang.

Lanjut Zia, terdapat harassment atau ganguan secara terus menerus yang merugikan korban. Kemudian, cyberstalking atau menguntit seseorang secara online. Lalu, impersonating yakni perilaku meniru atau menjiplak identitas seseorang dengan tujuan merusak reputasi orang tersebut.

Dari statistik data, sebagian besar cyberbullying dilakukan di Instagram. Hal ini karena Instagram merupakan platform yang mengedepankan visual (foto). Jadi, mudah bagi orang untuk berkomentar negatif atau julid. Selain itu, prestasi akademik, ras, seksualitas, status finansial, agama, dan hal lainnya menjadi target bullying di dunia digital.

Selain menjadi victim atau korban, kita secara tidak sadar juga bisa sekali menjadi pelaku bully. Seseorang bisa menjadi pelaku bully karena adanya amigdala dalam otak.

“Amigdala ini mengatur emosi kita. Cara kerja amigdala ini lebih cepat dibandingkan logika manusia. Hanya membutuhkan waktu satu detik bagi seseorang apakah orang tersebut benci atau suka terhadap sesuatu,” jelasnya.

Maka karena itu, seseorang bisa membenci orang lain di internet karena amigdala yang bekerja lebih dulu tanpa diproses oleh logika. Alasan lainnya bisa karena iri, proyeksi untuk menutupi kelemahan diri, dan ketidaktahuan yang menyebabkan kebencian.

Agar tidak menjadi pelaku bully, kita harus selalu mengingat reputasi. Terlebih apa yang di-posting secara online bersifat permanen dan bisa dilacak kapanpun. Kemudian, gunakan empati kita terhadap seseorang, hindari berdebat di dunia maya, dan berhenti mengikuti seseorang hanya untuk berkomentar negatif.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Senin (13/9/2021) juga menghadirkan pembicara Novianto Puji Raharjo (Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Dalwa), Yanuar Tisna Perdana (Owner Klanrock House, Vape Queen, Slowfast Burger n Toast), Williem Wijaya (Owner Jasa Online “Print Murah Jember”), dan Untsaa Nabilla sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.