Marketplus.id – Saat ini, gadget merupakan alat komunikasi yang banyak digunakan di seluruh dunia. Sifatnya yang multifungsi menjadikan gadget diperlukan oleh banyak orang, bahkan sebagian ada yang tidak bisa lepas darinya.

Menurut Stephanie Olivia, Tenaga Ahli DPR RI, banyak orang yang menggunakan gadget secara berlebihan dan cenderung mengalami kecanduan. Padahal, kecanduan gadget memiliki beberapa efek negatif bagi kesehatan mental seseorang.

“Biasanya, kecanduan gadget dialami oleh orang-orang yang memasuki masa remaja,” ujar Stephanie dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (13/9/2021) siang.

Lanjutnya, penggunaan gadget mencapai puncaknya selama masa remaja dan secara bertahap menurun setelahnya. Penggunaan gadget yang berlebihan di kalangan remaja sangat umum sehingga 33% anak berusia 13 tahun tidak pernah mematikan gadget mereka, siang atau malam.

“Semakin muda usia anak terpapar gadget, semakin besar risiko penyalahgunaan gadget. Gejala kecanduan gadget,” terangnya.

Ada beberapa gejala yang tampak ketika seseorang mengalami kecanduan gadget. Beberapa tandanya antara lain seperti:

  • Meraih gadget saat sendirian atau bosan.
  • Bangun beberapa kali di malam hari untuk memeriksa gadget.
  • Merasa cemas, kesal, dan cepat marah ketika jauh dari gadget.
  • Menghabiskan banyak waktu di depan gadget.
  • Mengganggu pekerjaan, tugas sekolah, dan hubungan dengan orang di sekitar.
  • Gampang kambuh ketika mencoba membatasi penggunaan.

Presiden Joko Widodo, mengungkapkan saat membuka program literasi digital nasional dengan tajuk Indonesia Makin Cakap Digital, tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat. Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital.

“Konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital. Hal-hal itu perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan literasi digital kita minimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif,” ujarnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (13/9/2021) siang juga menghadirkan pembicara Ayrton Edoardo Aryaprabawa (Founder & Director Crevolutionz), Danis Kirana (Co-Founder Dako Brand & Communication), Muhammad Alvin Al Huda (CEO CV. Huni Raya Group), dan Mukhammad Kholil Subarkah (Pendiri Dolan Pasuruan) sebagai Key Opinion leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.