Marketplus.id – Sejak pertama kali diumumkan kasus positif korona di Indonesia oleh Presiden Jokowi pada 2 Maret 2020, masyarakat mulai merasa khawatir dan cemas. Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orang tua bahkan semua orang yang berada dalam rumah.

Menurut Aaron Daniel O’Brien, English Teacher, Edication Strategist serta Content Creator pembelajaran daring yang berlangsung sebagai kejutan dari pandemi COVID-19, membuat kaget hampir di semua lini, dari kabupaten atau kota, provinsi, pusat bahkan dunia internasional.

“Proses kegiatan belajar mengajar yang semula bisa di ruang-ruang kelas secara tatap muka, kini harus digantikan dengan metode PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang memanfaatkan media sosial dan sejumlah aplikasi belajar pada laman internet,” ungkap Aaron dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (15/9/2021).

Lanjutnya, namun selama proses pembelajaran jarak jauh, beberapa keluhan dari mahasiswa muncul lantaran PJJ ini menjadikan tugas perkuliahan lebih banyak diberikan dari dosen dengan tenggat waktu yang cukup sebentar.

“Tidak hanya itu, permasalahan seperti gangguan sinyal, jaringan internet yang belum memadai di daerah tempat tinggal, dan keterbatasan sarana aplikasi belajar sudah seharusnya menjadi perhatian bersama,” jelasnya.

Ia menambahkan, tidak semua dosen menguasai penggunaan teknologi dalam upaya memanfaatkannya sebagai media belajar. “Beberapa dosen hanya menggunakan saluran grup telekomunikasi seperti WhatsApp dan Telegram untuk memberikan bahan ajar yang sudah disiapkan. Mahasiswa dipersilahkan untuk memahami sendiri dan di ujung sesi perkuliahan, akan ada tugas menanti,” tuturnya.

Selain itu, sinyal dan jaringan internet bagi mahasiswa kerapkali menghambat koneksi untuk bergabung ke ruang kelas. Keterlambatan menjadi lumrah karena mahasiswa membutuhkan waktu untuk menghubungkan gawainya dengan sambungan internet.

Terlepas daripada itu semua, pembelajaran jarak jauh ini menghadirkan beragam peluang yang bisa disikapi dengan optimisme oleh mahasiswa. Contohnya yaitu dapat meningkatkan wawasan berpikir mahasiswa untuk mendalami lebih giat lagi materi yang sudah diberikan dosen.

Ia juga menjelaskan, pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi efektif bila terdapat sinergisitas yang baik antar seluruh elemen pendidikan. Baik itu kemdikbud sebagai pemerintah, guru/dosen sebagai tenaga pendidikan, dan juga peserta didik sebagai objek pendidikan.

“Semangat belajar tidak boleh meredup dan harus tetap berkobar agar nilai-nilai moral kependidikan bisa terus diamalkan dalam menjalani metode belajar seperti ini,” imbuhnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (15/9/2021) juga menghadirkan pembicara Oktavian Jasmin (Coo of PT. Manada prima Makmur), Dra. Byarlina Gyamirti (Psikolog), Acep Syaripudin (Penggiat Internet Sehat), dan Winda Rorong sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.