Marketplus.id – Mengikuti arisan online ternyata ada dampak positif dan negatifnya. Ini seiring perkembangan teknologi dan metode arisan yang kian berkembang. Jika biasanya dilaksanakan secara konvensional, kini arisan digelar secara online. Tapi perlu hati-hati jika ingin mengikuti arisan online.

Sekarang modus penipuan berkedok arisan online marak terjadi di tengah masyarakat. Hanya bermodalkan ponsel pintar, banyak orang jahat yang menggunakan arisan online menjadi modus baru penipuan.

“Oleh karena itu, kita perlu waspada dengan modus penipuan ini,” terang Jatmiko Fitri Hamzah, Tim Owner IT Building at CV. Lestari Ilmu Digital Text & Ketua Relawan TIK Magetan, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021).

Ia menerangkan, biasanya pelaku yang melakukan modus arisan online ini mengincar ibu-ibu sebagai korban kejahatannya. Namun bisa jadi Anda juga menjadi salah satu korban dari modus penipuan berkedok arisan online ini.

Berikut ini langkah modus yang dilakukan para penipu arisan online, seperti:

  1. Membuat grup chat di media sosial untuk mengajak orang-orang ikut arisan online.
  2. Mengirim pesan secara pribadi dan memaksa ikut arisan tersebut.
  3. Mengajak banyak orang bergabung, bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun.
  4. Memberikan testimoni palsu yang menggiurkan.
  5. Biasanya memutar uang arisan satu dengan lainnya untuk menutup lubang.

Presiden Joko Widodo saat membuka program literasi digital nasional, mengungkapkan, tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat.

“Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital,” ujar Presiden Joko Widodo.

Presiden pun mencontohkan konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital.

Hal-hal itu perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. “Dengan literasi digital kita minimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif,” ujarnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (28/9/2021) juga menghadirkan pembicara Dewi Wahyu Wijianti (Koordinator Tutor Bimbel Privat Mandiri), Clara Marisa Purnamasari (Associate Wealth Planner & Internasional Campus Ambasador), Imron Romanza (Tutor Pendidikan dan Teknologi), dan Meitha Kurniasari (Experienced Secretary to BOD) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.