Marketplus.id – Saat ini semua orang menggunakan media sosial (medsos), mulai dari Facebook, Twitter, sampai Instagram. Lewat medsos, berbagai informasi begitu mudah didapat, bahkan boleh dibilang berhamburan saking banyaknya.

Namun di tengah derasnya arus informasi, seringkali kita temui informasi yang tidak benar alias hoax. Tak jarang kita malah membantu membagikan hoax tanpa mencari tahu benar tidaknya informasi tersebut.

Adinda Adia Putri, Medical Doctor, mengatakan, menggunakan medsos pada dasarnya boleh saja. Sebab, medsos hanyalah alat atau media untuk melakukan sosialisasi dengan teman, saudara, kenalan, dan dengan siapa saja. Namun ada dua hal dalam bermedsos yang harus diperhatikan. Yang pertama, bagaimana menggunakan alat itu secara benar, bertanggungjawab, dan bermanfaat.

“Menggunakan medsos menjadi tidak boleh jika medsos isinya mengandung konten yang tidak dibenarkan,” terang Key Opinian Leader ini dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Senin (11/10/2021).

Poin kedua, dalam bermedsos, kita harus memperhatikan konten apa saja yang boleh dan tidak boleh disebarluaskan. “Misalnya kita mengakses atau meng-upload, atau men-share konten yang mengandung pornografi, hoax, hate speech atau ujaran kebencian dan hal lain yang membuat keadaan menjadi tidak baik,” jelasnya.

Selanjutnya, apabila di medsos sudah melihat para pengguna berseteru satu sama lain, maka tugas kita adalah melakukan ishlah atau mendamaikan yang kira-kira bertentangan atau berpotensi untuk bermusuhan.

Ia juga mengatakan tidak boleh berprasangka buruk, yang belum jelas tetapi sudah dibesar-besarkan dan langsung men-judge atau menghakimi orang itu jelek. Padahal semuanya berdasarkan informasi yang tidak jelas kebenarannya.

“Kemudian tidak diperbolehkan juga mencari-cari kesalahan. Orang sudah baik, orang sudah benar, dicari-cari terus kesalahannya, hanya karena kita tidak suka pada orang tersebut,” imbuhnya.

Lanjutnya, pihaknya harus mengedepankan prinsip saling mengenal, saling menghormati, saling menghargai, antar jenis kelamin, antar suku, antar bangsa, antar keyakinan, sehingga medsos membuat saling menyayangi, saling menghormati dan merekatkan persaudaraan.

Jangan sampai medsos malah berdampak kebalikannya, yakni justru membuat yang tadinya bersaudara malah jadi bermusuhan atau yang tadinya menjalankan kewajiban malah melupakan dan melalaikan kewajibannya.

“Jadi bermedsos itu boleh, yang penting kontennya atau isinya baik, benar, bermanfaat, membawa kebaikan, tidak membawa perpecahan dan tidak mengandung konten sebagaimana yang tadi saya sebutkan dan tidak berdampak buruk baik bagi orang yang menggunakan medsos itu sendiri maupun bagi orang lain,” terangnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, (11/10/2021) yang menghadirkan pembicara, Novianto Puji Raharjo (Ketua Relawan TIK Jatim), Diding Adi Parwoto (Praktisi IT & Ketua LPM IAI Uluwiyah Mojokerto), Amidatus Sholihat (Wakil Rektor III ITSNU Pasuruan), dan Imron Romanza (Founder Bank Sampah Sedokiri).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.