Marketplus.id – Agar anak-anak tidak mudah terpapar konten pornografi di internet, pendidikan seks perlu diajarkan sejak dini. Hal ini menjadi penting agar anak-anak tidak mencari tahu sendiri yang justru bisa menjebaknya pada perilaku adiksi atau kecanduan pornografi.

“Pencegahan pornografi memang harus dimulai dengan pendidikan seks di keluarga. Anak-anak harus mendapatkan pengetahuan yang benar agar tidak mencari tahu sendiri. Apalagi konten-konten pornografi masih sangat mudah diakses di internet,” kata Nurchairiyah Harahap, Account Manager at Fuselab Integrated Creative Partner, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021) siang.

Ia mengungkapkan, rasa penasaran yang tinggi akibat tidak mendapatkan pendidikan seks di keluarga, anak-anak yang tadinya hanya “iseng” lama kelamaan bisa menjadi kecanduan konten pornografi. Karena menurut Eka, cara pornografi merusak fungsi otak sama dengan narkoba.

“Adiksi pornografi sama saja dengan adiksi narkoba. Keduanya bisa menyebabkan fungsi otaknya jadi terganggu. Karena fungsi kenikmatan yang terangsang di otak membuat dia ingin kembali melihat konten pornografi, sampai akhirnya jadi kecanduan,” paparnya.

Menurutnya, mengajarkan pendidikan seks, bisa dimulai sejak masa balita. Misalkan dengan menerangkan fungsi-fungsi organ vital. Langkah ini juga perlu dilakukan untuk mencegah anak menjadi korban pelecehan seksual.

“Sejak balita anak-anak sudah bisa diperkenalkan pada fungsi-fungsi alat kemaluannya. Ini penting agar anak-anak tidak menjadi korban pelecehan. Jadi harus diingatkan juga bahwa tidak boleh ada orang lain yang menyentuh organ kemaluannya,” ujarnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Ida I Dewa Ayu Yayati Wilyadewi (Ketua Inkubator Bisnis Unhi Denpasar), Ziadatul Hikmiah (Dosen Psikologi Universitas Brawijaya Malang), Jean Christy Sihotang (Teacher at Ora et Labora Senior High School), dan Aprilia Frinanda Setiawan (Video Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.