18 Juni 2024

Marketplus.id – Di era yang serba memanfaatkan jaringan internet, informasi tersebar dengan cepat melalui medium perangkat komunikasi seperti ponsel pintar dan media sosial. Di antara informasi tersebut, ada hoaks atau berita palsu yang begitu mudah menyebar di masyarakat. Hoaks atau berita bohong memberi dampak kesehatan mental hingg menimbulkan perpecahan. Terelebih di tengah kondisi pandemi hoaks seputar kesehatan mengenai vaksin dan Covid-19 banyak beredar.

Fibra Trias Amukti, Editor in Chief Mommies Daily mengatakan, hoaks merupakan informasi bohong yang memiliki tujuan membentuk opini yang salah, menipu, menghasut, menyakiti, bersifat provokasi dan memecah belah dan menimbulkan keresahan bagi yang membaca maupun mendengarnya.

“Hoaks dapat dikenali ciri-cirinya seperti sumbernya tidak jelas, memunculkan kebencian, dan cenderung tidak netral,” katanya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I, pada Selasa (19/10/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan, hoaks biasanya memanfaatkan fanatisme terhadap agama, memiliki judul headline yang provokatif, minta untuk disebarkan dan diviralkan, sert sering memanipulasi foto serta keterangan. Bahaya hoaks tak bisa diabaikan, bahkan bisa memengaruhi kesehatan mental seseorang dengan menimbulkan cemas, panik berlebihan, stres, takut luar biasa, dan mudah marah.

“Bagi kesehatan fisik, hoaks bisa membuat sulit tidur, malas beraktifitas dan membuat susah berkonsentrasi. Di masyarakt hoaks juga menimbulkan relasi sosial yang tidak baik, bisa berupa saling ejek, saling debat, saling benci dan menimbulkan konflik serta perpecahan,” katanya lagi.

Selain itu hoaks sangat berbahaya dan dapat memecah belah masyarakat, sehingga perlu adanya pemahaman untuk mengenal ciri-ciri hoaks. Dia mengatakan, setiap orang mungkin bisa menjadi penyebar hoaks maka setiap orang haruslah menjadi pembaca cerdas dengan membaca keseluruhan artikel, mengecek kembali siapa penulisnya, mengecek situsnya, mengecek nara sumber yang dikutip dalam tulisan, mengecek keaslian foto, dan cari berita pembanding.

Namun dengan kekhawatiran tersebut, setiap orang sebenarnya bisa berperan dalam penyebaran hoaks maka tiap individu perlu mengedukasi diri sendiri dan orang terdekat. Selain itu beri tahu bahwa ada ancaman pidana dari penyebaran hoaks. Sejak masih anak-anak orang tua bisa memutus rantai generasi hoaks dengan melatih anak berpikir lebih kritis dan biasakan anak untuk memahami pesan dari berita yang dibacanya. Orangtua pun bisa bekerja sama dengan pihak sekolah terkait edukasi hoaks.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Maria Natasya, Internal Communication Strategic Planner CIMB Niaga, Eko Ariesta, Founder dan CEO Enterpro.id, serta Fanny Fabriana, seorang Public Figure.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *