Marketplus.id – Transformasi digital mengharuskan kita untuk mampu beradaptasi dengan budaya baru. Namun lebih dari itu juga harus mampu menjadi masyarakat digital yang pintar.

Ruang digital tidak hanya memfasilitasi dengan kemudahan dan berbagai manfaat di dalamnya, tetapi juga mengandung celah-celah digital yang merusak ruang digital. Apabila kita menggunakan secara positif, kreatif dan produktif tentunya akan bermanfaat dan sebaliknya.

“Apa saja yang merusak ruang digital? Berita bohong atau hoaks, kejahatan dan penipuan, konten negatif, ujaran kebencian, pornografi, pornoaksi serta intoleransi. Inilah yang patut kita waspadai, jangan sampai kita menjadi pelaku ataupun korban,” ujar Maria Anishya Dosen Komunikasi STT Malang, TV Presenter & Marketing Communication dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (28/10/2021).

Seorang ilmuwan MC Luhan mengatakan temuan atas dasar teknologi itulah yang sebenarnya mengubah manusia. Dan eksistensi manusia ditentukan oleh perubahan model komunikasi. Sementara masyarakat digital adalah yang identik dengan pola interaksi menggunakan media baru yang akhirnya membentuk budaya digital.

Budaya baru kita, menggunakan media sosial, berbelanja online, melakukan pembayaran digital, pendidikan online, work from home, transportasi online, konsultasi dokter online, webinar dan lain sebagainya. Ini merupakan budaya baru yang saat ini kita alami.

Kita hidup di dua alam, dunia nyara dan maya bersenyawa. Manusia bukan hanya hadir secara fisik atau nyata tapi virtual atau maya lewat media platform di antaranya WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain sebagainya.

Mengapa harus cakap digital? Karena teknologi melesat, terbentuknya masyarakat digital, masyarakat digital terlahir di era milenial dan kehidupan semua sudah serba digital. Maka bagaimana menjadi masyarakat digital yang pintar?

Optimalkan kemampuan 4C, apa saja itu?

  1. Critical thinking & problem solving

Pemikiran kritis dan mampu mengoptimalkan teknologi informasi, tahu dan paham UU ITE agar tidak melanggar norma / etika dalam penggunaan internet dan media sosial. Berpikir kritis dan logis tanpa mengeluarkan banyak energi negatif dan kemarahan.

  1. Creativity

Kreativitas sesuai bidang, ketepatan dalam memilih verbal dan membuat konten yang menarik positif dan tidak mengandung unsur SARA, dan berinovasi.

  1. Communication skill

Memahami bahasa komunikasi visual yang ada di internet, mampu berkomunikasi yang baik di ruang digital, tidak menyebarkan berita hoaks, tidak terpancing emosi dan melakukan tindak kekerasan verbal seperti ujaran kebencian, tahu tentang keamanan digital.

  1. Ability to work Collaboratively

Kolaborasi dalam menciptakan ide baru, bisnis baru membuka kesempatan untuk orang lain dan mendatangkan rezeki untuk diri sendiri juga memperluas jaringan serta teman baru.

 

Membangun budaya digital sebagai masyarakat cerdas bisa dilakukan dengan memanfaatkan internet untuk bermacam hal. Seperti berbagi pengetahuan dan pengalaman, mencari peluang bisnis, memperluas jaringan pertemanan, berbagi hobi dan interaksi komunitas online. Memanfaatkan internet sebagai sarana mengembangkan kemampuan dan keterampilan sosial, menjaga komunikasi, mengakses informasi dan sumber referensi untuk kebutuhan riset dan data.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kamis (28/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Taufik (Dosen, PLT Bondowoso), Stebby Julionatan (Ketua GPMB & Akademi Pasca Sarjana Universitas Indonesia), Moh Rizki Firdaun (Direktur Utama CV Kreasi Anak Nusantara), dan Rinanti Adya Putri (Operation Executive Zalora Group) sebagai Key Opinion Leader.