Marektplus.id – Penggunaan ponsel atau gawai terus menerus ternyata memberikan dampak negatif hingga taraf adiksi. Tak cuma pada orang dewasa saja, kecanduan gawai juga bisa menyerang anak-anak.

Hal itu dikatakan, Lisa Zhang, Public Speaking Coach, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (29/10/2021).

Lanjutnya, buntutnya banyak dari anak-anak usia 7 sampai 15 tahun mengalami adiksi atau kecanduan gawai hingga terpaksa menjadi pasien di rumah sakit untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Ini beberapa gejala dan ciri-ciri yang ditimbulkan dari kecanduan gawai pada anak:

  1. Cenderung Emosional

Anak yang mengalami kecanduan gawai memiliki gejala yang mudah emosi dan cenderung ekspresif jika keinginannya tak dipenuhi atau ketika ada pelarangan mengakses gawai oleh orang tua. Ketika dilarang langsung ekspresi emosinya sangat tinggi.

  1. Bisa Lupa Makan dan Minum

Anak-anak yang kecanduan mengakses gawai juga banyak yang sampai lupa waktu bahkan untuk sekadar makan maupun minum. Mereka menganggap bermain games di gawai atau mengakses media sosial lainnya lebih penting. Pada sejumlah kasus tertentu bahkan ada anak yang sampai mengalami dehidrasi lantaran tak beranjak dari posisinya saat bermain game dalam waktu yang teramat lama.

  1. Mengurung Diri

Pada kebanyakan kasus kecanduan gawai anak-anak lebih memilih mengurung diri dan mengurangi intensitas berinteraksi dengan teman sebayanya. Hal itu diperparah dengan minimnya pengawasan dari orang tua. Anak yang sering mengurung diri juga berpotensi mengalami masalah pada interaksi sosialnya. Mereka lebih senang menyendiri daripada bergaul.

  1. Agresif dan Bisa Melukai

Dalam kondisi tertentu, anak-anak yang mengalami kecanduan gawai bahkan tak segan mengancam orang lain dan dirinya sendiri tatkala keinginannya mengakses gawai tak dipenuhi. Kondisi itu merupakan buntut dari ekspresi emosional yang mereka alami karena sudah berada dalam taraf adiksi gawai. Orang tua akhirnya akan kesulitan melakukan pembatasan jika anak sudah berlaku demikian. Ketika dilarang langsung ekspresi emosinya sangat tinggi. Bisa melempar barang, bahkan bisa mengancam dengan senjata tajam kalau tidak dituruti permintaannya, seperti ponsel dan kuota.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (29/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Zulham Mubarak (Ketua Umum Milenial Utas & Komisaris PT. Agranirwasita Technology Indonesia), Dr Mondry (Koordinator Humas PSIK FISIP UB & Koordinator Redaktur Koran Kampus “MIMBAR”), Muhajir Sulthonul Aziz (Ketua Relawan TIK Surabaya), dan Sukma Ningrum (Content Creator) saat menjadi Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.