Marketplus.id – Informasi tersebut berisikan jumlah perjalanan yang kamu lakukan bersama Go-Jek maupun Grab selama satu tahun terakhir. Informasi inilah yang disebut dengan jejak digital atau digital footprint. Jejak digital merupakan data aktif maupun pasif yang terkumpul di komputer atau platform digital lainnya.

Hal itu dijelaskan, Agung Gita Subakti, Lecturer Specialist S2 Universitas Bina Nusantara, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (1/11/2021).

Jejak digital pasif ialah jejak yang tidak sengaja ditinggalkan, seperti rekaman linimasa Google Maps. Tanpa sadar pengguna memberikan data berupa tempat tujuan dan rute yang dilalui selama pemakaian Google Maps.

Sementara jejak digital aktif adalah jejak digital yang tercipta atas peran aktif si pengguna. Contohnya seperti unggahan atau pembaruan status media sosial, serta e-mail yang diterima atau dikirim oleh pengguna.

Ia menjelaskan, pengguna internet akan menciptakan jejak digitalnya sendiri. Jejak digital yang tidak baik akan berdampak buruk serta merugikan pemiliknya di kemudian hari.

“Apalagi jika ada pihak tertentu yang menargetkan dirinya dan memanfaatkan jejak digitalnya untuk kepentingan pribadi,” tuturnya.

Maka dari itu, bahaya jejak digital perlu ditangani sedini mungkin dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:

  • Tidak Mengunggah Konten Negatif

Pengguna internet perlu memikirkan ulang apa yang akan diunggah di media sosial, apakah konten tersebut baik atau tidak. unggahlah konten yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jika ingin mengunggah berita, pastikan berita tersebut valid. Unggahan kita pun harus legal, jangan sampai mengandung hak cipta orang lain.

  • Menjaga Informasi Pribadi

Penting untuk tetap berhati-hati dalam mengunggah informasi pribadi di media sosial. Tanpa disadari, jika terlalu sering mengunggah atau memperbarui status di media sosial, kita telah memberitahu pola kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, unggah secukupnya saja. Kemudian hindari mengunggah nomor KTP, alamat rumah, nomor telepon, dan tanda tangan.

  • Perketat Keamanan di Internet

Pastikan untuk memperketat keamanan di internet dengan membuat kata kunci yang sulit. Jangan membagikan kata kunci ke orang lain dan simpanlah di tempat yang aman. Pengguna juga disarankan mengaktifkan verifikasi dua langkah, two-step verfication, sehingga tidak ada aktifitas yang mencurigakan.

Ia menambahkan, ketiga poin di atas merupakan langkah preventif agar tidak ada bahaya jejak digital yang merugikan kamu di masa yang akan datang. “Pastikan untuk tetap cerdas menggunakan internet, sebab seperti halnya di dunia nyata, apa yang kita lakukan di dunia maya (internet) pun akan berdampak bagi kehidupan kita kelak. Ingat bahwa jejak digital merupakan barang berharga yang harus dijaga, ia sulit untuk dihapus bahkan setelah bertahun-tahun,” katanya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Senin (01/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Keke Michelle Awuy (Tenaga Ahli DPR RI), Aryo Hendarto (Founder dan CEO Sajiwa), Amidatus Sholihat (Wakil Rektor III ITSNU Pasuruan), dan Aprillia Frinanda Setiawan (Beauty Content Creator) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.