Marketplus.id – Etika digital merupakan pelaksanaan penggunaan sumber daya online yang dapat diterima oleh semua pengguna. Jadi digital etik memang sebenarnya harus dimiliki oleh semua pengguna sumber daya online atau warganet. Ada juga netiket gabungan dari 2 kata yakni net atau jaringan dan etika. Bagaimana etika dalam berjejaring, cara berkomunikasi yang benar atau dapat diterima di internet.

Tika Septiani, dosen Universitas Swadaya Gunung Djati menjelaskan, beberapa netiket yang harus dilakukan warga net. Dilarang membuat posting-an memfitnah orang lain. Seringkali terdengar kabar burung. Kita lantas jangan tergelitik untuk membuat status mengomentari hal yang belum benar. Sebab itu bisa jadi malah menimbulkan fitnah.

“Tidak menjiplak karya orang lain sekalipun status milik warganet lainnya. Jika kita ingin mengambil kata-kata orang lain harus disebutkan sumber. Di media sosial juga ada fitur bagikan atau retweet untuk Twitter yang dapat membagikan ulang status orang. Sehingga yang lain tahu siapa pemilik asli dari status tersebut,” ungkapnya saat mengisi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (04/11/2021) pagi.

Budaya yang kerap dilupakan ialah selalu berterima kasih kepada orang. Jika di ruang digital, yang dapat kita terapkan yakni mengucapkan terima kasih jika konten kita disukai atau diberi komentar positif. Ungkapan singkat yang berarti, kita ikut menghargai apa yang orang lain lakukan. Mereka juga sudah menghargai karya kita.

Salah satu cara menghargai ornag lain yakni dengan menghormati privasi. Sesama warganet kota harus dapat saling menjaga privasi, sebab kita juga tidak mau jika privasi kita disebar tanpa izin.

Netiket selanjutnya ialah memverifikasi fakta sebelum posting ulang. “Jangan forward pesan di WhatsApp tanpa dipikir dahulu. Kira-kira ini betul atau tidak, kita harus curiga dahulu bisa jadi beritanya hoaks. Kita harus verifikasi. Jangan sebelum verifikasi langsung posting ulang. Kalau tidak mau verifikasi yang tidak perlu dibagikan,” jelasnya

Dilarang juga mem-posting hal yang bernada ofensif atau serangan yang menyudutkan individu lain bahkan kelompok lain. Perhatikan juga bahasa yang baik dan benar juga sopan tidak melakukan spam. Jika kita ingin menawarkan sesuatu bukan dengan cara mengirimkan secara acak dan terus menerus. Ada etika untuk menawarkan produk yang kita jual, bukan juga menawarkan saat orang sedang sakit. Bukannya berempati kita malah berdagang, banyak cara lain untuk menawarkan tanpa menyinggung atau terkesan tidak berempati.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (04/11/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Al Akbar Rahmadillah (Founder Sobat Cyber Indonesia), Diana Balienda (Trainer Digital), Aristyo Hadikusuma (Director at Otinesia), dan Almira Vania sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.