Marketplus.id – Media sosial sudah lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Berdasarkan laporan We Are Social pada 2020, sekitar 59% penduduk Indonesia menggunakan media sosial secara aktif.

Menurut Untsaa Nabila, Singer & Sosial Media Influencer sebagai Key Opinion Leader, media sosial dibanjiri beragam jenis konten yang dibagikan oleh pengguna atau kreator konten. Mulai dari konten yang bersifat informatif dan edukatif hingga konten negatif, ujaran kebencian, kampanye hitam, dan sebagainya.

“Berkaca dari hal tersebut, kita perlu bersikap bijak ketika akan mengunggah konten di media sosial, baik sebagai kreator konten ataupun ketika akan meneruskan informasi. Kita sebaiknya mengedepankan etika berkomunikasi layaknya berkomunikasi di dunia nyata. Caranya dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar serta menghindari membuat konten yang menimbulkan kontroversi dan memicu permusuhan,” ungkap Untsaa, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021).

Ia menambahkan, selain itu, penting untuk melakukan verifikasi informasi dan membatasi jumlah unggahan agar tidak over posting. Jangan lupa juga untuk berhati-hati ketika membagikan informasi pribadi.

“Para kreator konten juga perlu memahami etika credits (atribusi) dan hak cipta agar terhindar dari masalah hukum. Terutama ketika menggunakan karya seperti musik, ilustrasi, foto, video, tulisan, dan lainnya, yang ditemui di internet,” terangnya.

Presiden Joko Widodo saat membuka program literasi digital nasional, menegaskan, tantangan di ruang digital semakin besar, konten-konten negatif terus bermunculan dan kejahatan di ruang digital terus meningkat. “Menjadi kewajiban kita bersama untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat melalui literasi digital,” ujar Presiden Joko Widodo.

Presiden pun mencontohkan konten-konten negatif yang marak muncul di ruang digital, seperti hoaks, penipuan daring, perjudian daring, eksploitasi seksual pada anak, perundungan siber, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital. Hal-hal itu perlu diwaspadai karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Dengan literasi digital kita minimalkan konten negatif dan membanjiri ruang digital dengan konten positif,” ujarnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Pipit Andriani (Public Speaking Coach & Investor Saham), Tiurida Lily Anita (Faculty Member at Binus University & Assesor Hotel and Restaurant at BNSP), Tino Agus Salim (Profesional Trainer & Motivator), dan Ariefika Listya (Dosen DKV Universitas Indraprasta PGRI).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.