Marketplus.id – Dalam penerapan etika bermedia digital seringkali ditemui tantangan akibat dari masuknya penggunaan internet yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Seluruh aspek kehidupan masyarakat sudah dibantu oleh internet yang membuat banyak pekerjaan menjadi lebih cepat dikerjakan.

Perubahan perilaku manusia yang melakukan perpindahan dari media konvensional ke digital semakin terlihat. Perilaku itu bisa kita saksikan bersama-sama sendiri secara fisik dalam satu waktu.

Ridwan Arifin wakabid Kesiswaan SMAN 8 Garut menyebut, kita dapat melihat orang-orang zaman sekarang lebih cepat dalam melakukan sesuatu seperti enggan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena terbiasa diantar. Perilaku lain saat kita dulu lebih senang jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain yang mungkin cenderung lebih dekat tapi sekarang kita dapat mengandalkan ojek online apabila kita ingin berpindah ke suatu tempat.

Situasi pandemi juga menyebabkan intensitas orang berinteraksi dengan gawai semakin tinggi. Bisa dirasakan ketika awal pandemi lalu ada pembatasan sosial di masyarakat, membuat kita harus berdiam diri di rumah bekerja dan bersekolah itu semua dilakukan di dalam rumah.

Sehingga mau tidak mau kita selalu terkoneksi selalu menggunakan gawai. Untuk beraktivitas berakibat juga setelah bekerja itu pun kita masih tetap di gawai untuk mencari hiburan atau hal-hal yang lain.

“Bukan hanya sekadar memegang gawai dan terkoneksi di internet tetapi juga sekarang masyarakat sangat tergantung dengan media sosial. Setiap hari setiap waktu kita terhubung dengan media sosial. Aplikasi pesan WhatsApp sudah termasuk media sosial, kita buka entah itu ada memang penting atau hanya obrolan-obrolan senggang di WhatsApp grup. Terlebih di media sosial untuk berjejaring lainnya seperti Facebook, Instagram dan Twitter itu sudah menjadi semua kebutuhan untuk eksistensi diri, berkarya dan berkreativitas,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (11/11/2021) siang.

Itu semua bisa dilakukan di media sosial. Memang tujuan awal media sosial sebagai sarana komunikasi untuk menghubungkan antara pengguna dengan cakupan wilayah yang sangat luas. Kita bisa menghubungi teman lama kita, teman sewaktu kita sekolah ataupun kita bisa tetap berkomunikasi dengan teman kita yang sudah pindah ke luar kota atau luar negeri sekalipun. Tetapi kini media sosial bukan hanya untuk itu saja media sosial bisa untuk kita belajar untuk kita menghasilkan uang karena kita bisa berpromosi di sana. Kita juga bisa membangun komunitas yang satu minat dengan kita atau kita punya referensi untuk membantu sesama kita juga bisa membuat komunitas.

Di media sosial juga dapat digunakan untuk memerangi kejahatan yang ada. Misalnya terdapat buronan yang lari, kita bisa membantu dengan menyebarkan fotonya di media sosial. Hal itu dapat membantu aparat untuk mencarinya ketika seseorang melihat, pasti akan melaporkan.

Memang media sosial ini berkembang sangat luas fungsinya dan kita pun dapat memanfaatkan itu semaksimal mungkin. Dengan segala kemudahan dan apapun yang bisa kita lakukan di media sosial itu nyatanya media sosial pun banyak sekali konten-konten negatif yang bisa mempengaruhi kita berdampak buruk bagi kita.

“Kita di media sosial mungkin saja ki dapat terkena penipuan karena kita berbelanja tanpa hati-hati. Kita bisa terbawa melakukan ujaran kebencian atau melakukan bullying karena kita terprovokasi oleh akun-akun yang memang disengaja diciptakan untuk membuat orang atau pecah belah. Kita bisa rasakan sendiri bahwa media sosial kini lebih banyak terjadi perdebatan, provokasi juga hingga membuat seseorang melakukan ujaran kebencian seseorang kelompok atau orang lainnya,” jelasnya.

Langkah untuk menyikapi konten-konten negatif agar kita tidak melakukan ujaran kebencian yaitu introspeksi diri menyadari apa gunanya melakukan perdebatan di ruang digital sudah dipastikan tidak ada manfaatnya hanya membuang waktu saja. Kita juga tidak perlu terlalu vokal terhadap sebuah isu yang memang bukan bidang kita. Memaafkan juga merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan di ruang digital jika ada seseorang yang sudah berperilaku tidak baik kepada kita.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (11/11/2021) siang, juga menghadirkan pembicara, Atib Taufik Ibnu Bahrum (ketua MGMP Kota Depok), Hani Purnawanti (Koordinator Program Konsorsium Edukasi4id), Ayi Purbasari (dosen Universitas Pasundan), dan dr.Wafika Andira sebagai Key Opinion Leader.