20 Juni 2024

Marketplus.id – Riset Digital Civility Indeks pada Mei 2020 Microsoft mengungkap, Indonesia menempati urutan pertama sebagai negara paling tidak sopan se-Asia Pasifik. Sebanyak 27% responden mengaku pernah mengalami hate-speech, 43% lainnya menerima berita hoaks dan penipuan, sedangkan 13% lainnya merasakan tindakan diskriminasi. Salah satunya adalah perilaku cyberbullying atau perundungan sosial di dunia digital.

Sekretaris RTIK Kabupaten Blitar, Nuriyan Dwi Saputri mengatakan, cyberbullying di dunia digital sangat rawan sekali untuk anak-anak. Bisa menyebabkan anak enggan pergi ke sekolah dan berpengaruh pada psikologisnya. Cyberbullying meliputi banyak bentuk, seperti doxing, membagikan data personal seseorang ke dunia maya. Cyberstalking, mengintip dan memata-matai seseorang di dunia maya, termasuk membalas dendam dengan penyebaran foto atau video vulgar yang bisa juga untuk memeras korban.

“Setiap orang perlu memahami dampak dari cyberbullying bagi korban, karena pada dasarnya sebagian pengguna juga tidak sadar saat berperilaku di media sosial,” kata Nuriyan saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis (11/8/2022).

Padahal, kata dia, di kehidupan nyata maupun maya kata-kata yang ditulis melalui kolom komentar juga ikut memengaruhi korban. Secara mental korban bisa merasa kesal, malu, bodoh, bahkan marah. Adapun secara emosional korban bisa merasa malu dan kehilangan minat pada hal yang disukai. Bahkan dampaknya juga bisa ke fisik korban, seperti lelah karena kurang tidur atau mengalami gejala sakit perut dan sakit kepala.

Lebih mengkhawatirkan, cyberbullying juga memiliki dampak psikologis yakni mudah depresi, marah, cemas, merasa gelisah, menyakiti diri sendiri, hingga percobaan bunuh diri. Dampak sosialnya, korban bisa mengucilkan diri, merasa kehilangan percaya diri, lebih sensitif kepada teman dan keluarga.

“Pada anak cyberbullying bisa berdampak pada penurunan prestasi akademik, rendahnya tingkat kehadiran, dan perilaku bermasalah di sekolah,” katanya lagi.

Adapun menurut survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, Indeks atau skor Literasi Digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori sedang.

Merespons perkembangan Teknologi Informasi Komputer (TIK) ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya antara lain Founder & CEO Coffee Meets Stock, Theo Derick, Sekretaris RTIK Kabupaten Blitar, Nuriyan Dwi Saputri dan Kaprodi Ekonomi Syariah STAI Muhammadiyah Tulungagung, Mei Santi. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun instagram @siberkreasi dan @literasidigitalkominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *