Marketplus.id – Interaksi antar menusia kini sebagian besar telah berpindah di ruang digital, di mana berbagai kultural dan orang dari letak geografis yang berbeda berkumpul jadi satu. Dengan pengguna internet mencapai 4,7 miliar di seluruh dunia, fakta ini memunculkan tantangan dalam budaya dan etika dalam berperilaku di dunia digital.

Pengusaha dan Digital Trainee, Graphologist Diana Aletheia mengatakan, pengguna media digital harus memahami bahwa ada jejak digital yang ditinggalkan dari aktivitasnya berinternet. Jejak digital akan berupa jejak informasi di mesin pencarian, unggahan status dan foto, serta komentar di media sosial.

Sebabnya unggahan yang bersifat SARA di media sosial sebaiknya dihindari. Di era digital ini, para pencari kerja pun harus berhati-hati dengan unggahan tersebut, sebab sebelum merekrut pegawai biasanya pihak perusahaan akan mengecek media sosial pelamar. Bahkan sudah banyak kasus pekerja dipecat karena unggahan yang tidak pantas.

“Jangan sampai jadi pengangguran cuma gara-gara postingan di sosial media,” ungkap Diana saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur pada Senin (12/9/2022).

Jejak digital tidak bisa dihapus, sebab saat mengunggahnya bisa jadi pengguna internet lainnya dalam hitungan detik sudah membuat tangkapan layar atau bahkan menyimpan dan menyebarkan ulang. Bahkan jika dibagikan secara privat ke teman tertentu, unggahan tetap bisa bocor karena dibuat tangkapan layar dan disebarkan ulang.

Apalagi jika unggahan terkait konten yang bisa melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), UU No 19 tahun 2016 pasal 27 hingga 29. Dalam beberapa pasal disebutkan hukuman pidana bagi pelanggarnya, penjara 4 hingga 6 tahun san denda paling banyak Rp1 miliar. Pasal 27 UU ITE mengatur tentang kesusilaan, perjudian hingga penghinaan, sementara Pasal 28 berhubungan dengan ujaran kebencian, dan Pasal 29 terkait ancaman kekerasan atau menakut-nakuti secara pribadi.

Merespons perkembangan Teknologi Informasi Komputer (TIK), Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi melakukan kolaborasi dan mencanangkan program Indonesia Makin Cakap Digital. Program ini didasarkan pada empat pilar utama literasi digital yakni Kemampuan Digital, Etika Digital, Budaya Digital, dan Keamanan Digital. Melalui program ini, 50 juta masyarakat ditargetkan akan mendapat literasi digital pada tahun 2024.

Webinar #MakinCakapDigital 2022 untuk kelompok komunitas dan masyarakat di wilayah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siber Kreasi.

Kali ini hadir pembicara-pembicara yang ahli dibidangnya antara lain Pengusaha dan Digital Trainee, Graphologist Diana Aletheia, dan Digital Marketing, Diaz Yasin serta mengundang seorang Key Opinion Leader (KOL) dan Founder ParenThink, Mona Ratuliu. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Makin Cakap Digital hubungi info.literasidigital.id dan cari tahu lewat akun media sosial Siberkreasi atau instagram @literasidigitalkominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *