Marketplus.id — Penyebaran paham radikalisme tak lagi dilakukan lewat pertemuan fisik secara langsung, tetapi memanfaatkan media internet.

Dibutuhkan kecakapan digital dalam hal mengolah informasi yang diterima di internet agar tidak mudah terpengaruh paham ekstrem atau kabar bohong.

Generasi muda bisa mengantisipasi penyebaran radikalisme dengan mengasah kecakapan digital lewat literasi digital yang baik.

Hal itu menjadi perbincangan dalam webinar yang mengambil tema “Ayo Cegah Radikalisme dengan Pemahaman Literasi Digital”, Jumat (16/9), di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Dengan Kneysa Sastrawijaya selaku moderator, narasumber webinar ini adalah Koordinator Program SEJIWA-Google Andika Zakiy; dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Bone A Nur Aisyah Rusnali; dan dosen pada Universitas Bali Internasional Komang Tri Werthi.

Dengan mengutip data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Andika Zakiy mengungkapkan bahwa pada 2019, jumlah masyarakat Indonesia yang terpapar radikalisme sebanyak 38,4 %.

Namun, di tahun 2020 sampai 2021 angkanya turun menjadi 12,2 % atau sekitar 33 juta orang. Radikalisme dipahami sebagai paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial politik dengan cara ekstrem atau kekerasan.

“Pengaruh radikalisme bisa melalui media sosial yang kita gunakan atau lewat aplikasi pesan instan di gawai kita, seperti WhatsApp, Telegram, atau Line. Berdasarkan artificial intelligence internet, akun-akun media sosial yang akan muncul di linimasa media sosial kita adalah berdasar dengan apa yang sering kita cari atau baca di internet,” ujar Andika.

Dengan media sosial yang diikuti, kerap kali paham yang diyakini penggunanya akan memunculkan akun-akun yang sejenis. Dengan demikian, ia hanya akan mendapat satu sudut pandang saja tentang paham yang diyakini tanpa mendapat perspektif yang lebih luas. Begitu pula pemanfaatan akun pesan instan yang memudahkan penyebaran informasi.

“Oleh karena itu, kita harus cermat saat menerima informasi. Apakah informasi itu benar? Apa yang mereka, selaku penyebar informasi, inginkan dari saya? Hal-hal semacam itu patut diwaspadai termasuk memverifikasi keaslian dan kebenaran informasi tersebut guna mencegah terjadinya penyebaran hoaks,” ucap Andika.

Nur Aisyah mengingatkan, dunia digital dimanfaatkan oleh kelompok garis keras untuk menyebarkan paham radikalisme mereka. Mereka tidak lagi menggunakan metode pertemuan langsung secara fisik, melainkan lewat jaringan daring. Di sini, peran generasi muda selaku pengguna mayoritas internet, sangat penting untuk mencegah meluasnya paham radikalisme tersebut.

“Hal-hal yang dapat dilakukan generasi muda adalah harus paham dan memaknai nilai keragaman dan persatuan; memanfaatkan teknologi untuk hal yang bermanfaat; berperan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan dengan menjunjung tinggi persatuan dan toleransi; serta aktif mengikuti literasi digital,” ucap Aisyah.

Sebagai pemateri terakhir, Komang menyampaikan pentingnya generasi muda Indonesia mempelajari dan memahami ragam budaya di Indonesia. Penyebabnya adalah banyak generasi muda yang belum sepenuhnya mengenal Indonesia yang kaya akan ragam budaya, adat-istiadat, serta suku dan bahasa. Apabila mengenal keragaman di Indonesia dengan baik, maka pemahaman bahwa latar belakang orang yang berbeda-beda tersebut dapat menjadi modal untuk menghargai perbedaan dan mengutamakan persatuan.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *