Marketplus.id — Munculnya revolusi industri 4.0 menyebabkan perubahan zaman yang awalnya serba konvensional menjadi serba digital.

Hal inilah yang memicu masyarakat harus melek digital. Namun kecakapan masyarakat akan dunia digital rupanya masih kurang diimbangi dengan literasi digital. Oleh karena itu, diperlukan adanya edukasi kepada masyarakat luas akan pentingnya literasi digital.

Hal itu menjadi kesimpulan dalam webinar bertema “Jangan Asal Berkomentar, Kikis Ujaran Kebencian” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Kamis (15/9) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hadir sebagai narasumber adalah Ketua Program Studi S1 PR Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Rini Darmastuti; Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Bina Darma, Bastian Jabir Pattara; dan Miftahol Anwar selaku Pengasuh Pesantren Mahakarya Anak Bangsa sekaligus Direktur PT. Miftah Berkah Sejahtera.

Dalam webinar tersebut, Rini Darmastuti menjelaskan makna dari ujaran kebencian sekaligus memberikan beberapa contohnya, salah satunya yaitu kasus yang menimpa salah satu tokoh, Roy Suryo. Ujaran kebencian dapat menyebabkan dampak seperti tekanan sosial, stres, trauma, bunuh diri, takut dalam lingkungan sosial, serta mengisolasikan diri.

“Kita harus stop ujaran kebencian. Karena ujaran kebencian itu dapat membawa banyak korban yaitu tertekan luar biasa,” ujar Rini.

Terkait etika digital, Bastian Jabir Pattara menuturkan jenis ancaman terkait keamanan digital, yakni phising (pengelabuan) dan scam. Ia turut menyebutkan sejumlah contohnya, salah satunya impersonasi, yakni membuat akun media sosial mengatasnamakan diri kita lalu mereka menggunakannya untuk menipu orang lain. Untuk menghindari hal tersebut, Bastian memaparkan tips aman bermedia digital, antara lain dengan memastikan akun media sosial Anda menggunakan kata sandi yang kuat dan mengaktifkan Two-Factor Authentication serta selalu waspada akan tautan yang tidak dikenal.

“Hati-hati komentar di media sosial agar tidak menyakiti perasaan orang lain, tidak dilaporkan ke pihak berwajib karena melanggar pasal dalam UU ITE, tidak menimbulkan rasa dendam yang bisa berujung tindakan kriminal, tidak memberitahu kepada banyak orang mengenai sisi buruk dari diri kita yang sebenarnya, serta tidak meninggalkan jejak digital yang buruk,” ungkapnya.

Pada sesi terakhir, Miftahul Anwar menyajikan video terkait perbedaan revolusi industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga 4.0. Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak sekali aktivitas yang dijalankan secara daring, mulai dari bermain game hingga sekolah. Menurutnya, kita jangan hanya menjadi penonton saja di platform digital tetapi kita harus menjadi pemain dan pelaku juga.

Anwar mengutarakan, “Di internet itu kita bisa bergabung dengan grup-grup organisasi, kegiatan pelajar secara gratis. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk tidak memiliki ilmu secara digital.”

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *