12 Juli 2024

Marketplus.id — Indonesia yang amat beragam terdiri dari suku, bahasa, agama, dan budaya membutuhkan tantangan yang berat untuk menjaga persatuan. Dibutuhkan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menjaga kerukunan dan persatuan. Medium digital bisa digunakan untuk menjaga persatuan tersebut.

Hal itu menjadi kesimpulan webinar yang mengambil tema “Jaga Persatuan di Ruang Digital: Mengolah Keberagaman di Media Sosial”, Kamis (17/11) di Makassar, Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Webinar ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Koordinator Nasional Arus Informasi Nusantara Anifatul Jannah; Dewan Pengarah Siberkreasi dan Ketua Umum Relawan TIK Indonesia Fajar Eri Dianto; dan Ketua Asosiasi Sales Nasional Indonesia (ASNI) Makassar Hasrul As.

Menurut Hasrul, para pemuka agama dituntut aktif memberi informasi dan pemahaman agama untuk mengimbangi kebutuhan masyarakat saat ini. Caranya adalah dengan mengemas dakwah secara modern. Literasi beragama dengan internet adalah bagian yang tidak boleh diabaikan dalam kehidupan beragama saat ini, yakni dengan ikut serta mewarnai dinamika informasi perihal agama dengan pemahaman yang benar di dunia maya.

Para tokoh agama tersebut, lanjut Hasrul, berperan penting untuk menjaga komitmen dalam berbangsa, yaitu setiap orang harus bisa menjaga dan mencintai Tanah Air-nya. Selanjutnya, dalam hal toleransi dijelaskan bahwa peran penyuluh dan tokoh agama sangat penting sebagai agen moderasi beragama untuk mendiseminasikan nilai-nilai moderasi agama kepada khalayak dalam setiap dakwahnya.

“Jangan lupa untuk disampaikan pula oleh tokoh agama bahwa tidak ada satupun agama di dunia yang mengajarkan kekerasan terhadap umat lain. Patut dijelaskan pula bahwa keragaman di Indonesia itu, seperti budaya, suku, dan bahasa, adalah berkah luar biasa yang harus dijaga dan menjadi sumber persatuan, bukan perpecahan,” ucap Hasrul.

Fajar Eri Dianto menambahkan, tantangan budaya di era digital saat ini adalah menipisnya rasa wawasan kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu, menurut dia, dibutuhkan kompetensi budaya dalam bermedia digital. Kompetensi itu, antara lain pengetahuan dasar nilai-nilai Pancasila sebagai landasan kecakapan digital, pengetahuan akan hak-hak digital, dan pengetahuan yang mendorong perilaku mencintai dan bangga akan produk-produk buatan dalam negeri.

“Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah dasar moral bangsa yang juga harus dibawa ke ranah online sebagai ciri bangsa Indonesia, menjadi dasar terbentuknya kesatuan dan persatuan masyarakat Indonesia,” kata Fajar.

Sementara itu, Anifatul Jannah mengingatkan, upaya menjaga persatuan dan kesatuan di ranah online tetap harus memegang prinsip keamanan digital. Kompetensi keamanan digital yang dibutuhkan adalah mengamankan perangkat digital, mengamankan identitas digital, mewaspadai penipuan digital, memahami rekam jejak digital, dan memahami keamanan digital bagi anak.

“Tidak ada yang aman 100 % di dunia digital. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalkan resikonya sekecil mungkin. Lalu, selalu berpikir kritis dan tak mudah percaya dengan apa yang diperoleh di ruang digital,” kata Anifatul.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Sulawesi dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial @Kemenkominfo dan @Siberkreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *