12 Juli 2024

Marketplus.idSelam tiga hari penyelenggaraan Travel Exchange yang menjadi bagian dalam event ASEAN Tourism Forum (ATF) yang berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta, dari tanggal 3-5 Februari 2023, mayoritas pengunjung dan peserta keluhkan penyelenggaraan bursa wisata ini.

Dikutio dari wartaevent.com, sellers yang mengikuti Travex merogoh kocek yang tidak sedikit, mulai dari 10juta hingga 50juta rupiah.

Sejak awal pembukaannya, salah satu travel agent mengaku mengeluh, karena belum mendapat business appointment dari buyers yang hadir.

“Hari pertama memang ada empat buyers, dua dari lokal dan dua dari asing. Tapi mereka belum menunjukan arah bakal ada bisnis. Hanya nanya-nanya saja,” katanya.

Hal serupa juga dikemukakan oleh salah satu operator hotel Tanah Air. Di hari pertama, pihaknya hanya mendapat kunjungan dua buyer asing saja. Dan itu pun tidak ada appointment. “Padahal, kita bayar booth ini hampir Rp18 juta,” akunya.

Bahkan salah satu management hotel lama di Indonesia pun mengeluhkan hal yang sama. Saat ditemui di hari penutupan Travex (05/02/2033) mengatakan, tidak sesuai harapan.

“Meski kita mendapat potongan harga untuk ikut dalam bursa wisata Travex ini, tapi masih jauh dari harapan. Buyers yang datang dan yang potensial masih sedikit. Bahkan kita sampai tutupan pameran pun tidak dapat dafta buyers,” katanya.

Sejauh penyelenggaraan bursa wisata, baik sekala nasional maupun internasional list buyers sangat penting. Para sellers dapat mengukur dan melihat apakah para buyers tersebut potensial atau tidak.

David Lai, Business Development Manager Booking Meta mengatakan, dari beberapa kali  mengikuti ajang ATF, penyelenggaraan kali ini jadi salah satu pengalaman yang kurang menyenangkan.

Sejak menginjakkan kaki di DIY, pihak penyelenggara tidak menyiapkan petunjuk perjalanan yang jelas, apalagi jarak dari bandara ke lokasi pameran yang cukup jauh.

“Semestinya penyelenggaraan event berkelas internasional seperti ini, penunjuk arah dan atau pusat informasi yang cukup terkait ATF 2023 sudah ada,” katanya. Ia pun mengeluhkan harus menunggu lebih dari satu jam untuk proses transportasi dari bandara ke hotel.

Bahkan, sesampainya di hotel yang menjadi official pun David Lai mengaku tidak menemukan ada data informasi yang cukup, mulai dari jadwal, dan acaranya seperti apa, roundown-nya seperti apa. Padahal, hal ini wajib ia terima sebagai seorang buyers.

Awan Aswinabawa, Dewan Penasihat Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) menyampaikan, kualitas buyers potensial yang datang masih kurang. Padahal ini sangat penting bagi para sellers, karena mereka membayar dengan harga yang tidak murah.

Oleh karena membayar tidak murah, maka sudah sewajarnya para sellers ini mendapat buyers yang layak baik secara potensi maupun kualitasnya.

“Sebenarnya hal-hal seperti ini sudah harus dipersiapkan atau diantisipasi,” tukasnya. Padahal tujuan utama bertemunya antara sellers dan buyers adalah adanya prospek bisnis yang lebih jelas.

“Seharusnya rasio antara buyers dan sellers itu dua banding satu atau untuk lebih bagusnya itu tiga banding satu. Dengan demikian, para sellers tidak akan ragu dan merasa rugi untuk mengikuti Travex,” ungkap Awan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *