17 Maret 2025
LitDig2023_Flyer 12 Juni

Marketplus.id Dalam rangka kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan Workshop Literasi Digital, Jumat, 16 Juni 2023, di Jawa Barat.

Tema yang diangkat adalah “Peran Influencer dalam Strategi Membangun Bisnis Kuliner Online” dengan menghadirkan narasumber Founder 30 Degree Media Network Fajar Sidik; Bidang Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Relawan TIK Provinsi Bali Ni Kadek Sintya; serta Relawan TIK Kabupaten Garut Fahmi Taufiq Zain.

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 disebutkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori “sedang” dengan angka 3,49 dari skala 5. Dalam merespons hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan “Workshop Literasi Digital” dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Fajar Sidik memaparkan, banyak ragam menjual produk-produk dagangan, termasuk kuliner, kepada pelanggan. Selain pemasaran lewat online, penjualan produk makanan dan minuman pun kini memanfaatkan jasa influencer yang umumnya adalah artis atau publik figur. Diyakini, promosi yang dilakukan influencer tersebut bakal mendongkrak omzet penjualan.

“Khusus kuliner, ada dua macam strategi yang bisa mendongkrak penjualan, yaitu lewat jasa influencer dan jasa foodvlogger. Bedanya, influencer memiliki pengaruh sebagai penyebar informasi, memberikan persepsi dan preferensi, serta menjadi solusi dalam pemasaran,” kata Fajar.

Adapun foodvlogger, menurut Fajar, adalah pembuat konten kuliner yang memberikan ulasan tentang kualitas makanan yang diulas. Ia juga bisa merekomendasikan hal-hal apa saja terkait makanan dan minuman yang diulas. Selain itu, foodvlogger juga membuat konten dan membagikannya secara berkala.

Fajar juga memberikan sejumlah tips untuk menjadi influencer atau foodvlogger. Syaratnya adalah kedua jenis profesi tersebut harus sama-sama melakukan riset mendalam tentang kuliner yang hendak diulas atau dijadikan konten. Cara penyampaian harus bisa menarik perhatian audiens dan sebaiknya interaktif. Jangan lupa untuk turut serta mengikuti perkembangan di media sosial.

Fahmi Taufiq Zain membenarkan bahwa promosi di ruang digital sangat efektif untuk mendongkrak omzet bisnis kuliner. Menurut dia, strategi pemasaran maupun promosi bisnis kuliner secara digital lebih efektif dan lebih murah dibanding cara konvensional. Cara konvensional yang ia maksud adalah membuka toko fisik di lokasi strategis, membuat selebaran produk dan toko, atau mengikuti kegiatan bidang kuliner agar cepat dikenal konsumen.

“Adapun cara digital dilakukan dengan promosi di media sosial, di lokapasar, atau membuat website resmi produk yang dijual tersebut. Bisa juga promosi dilakukan dengan berkolaborasi via rider hailing atau memanfaatkan jasa influencer,” ucapnya.

Menurut Fahmi, bisnis kuliner di era sekarang ini terbilang menjanjikan. Selain sudah menjadi tren kekinian, bisnis kuliner memiliki risiko yang relatif rendah. Apabila memiliki cita rasa yang khas, sangat dimungkinkan bisnis kuliner tersebut akan laris dan digemari banyak pelanggan.

Sementara itu, menurut Ni Kadek Sintya, apabila hendak menggunakan jasa influencer atau foodvlogger, hal-hal berikut yang bisa mereka lakukan. Pertama adalah memberikan ulasan yang jujur terhadap produk yang dipromosikan. Kedua, memberikan pengalaman pribadi terkait produk yang dijadikan konten tersebut. Ketiga, harus memberikan informasi yang lengkap dan akurat.

“Untuk mempromosikan kuliner, influencer maupun foodvlogger harus sama-sama menggunakan pendekatan yang kreatif dan melibatkan interaksi dengan pengikut atau follower,” katanya.

Namun, ada sejumlah catatan yang tak boleh dilakukan influencer dan foodvlogger saat mempromosikan kuliner. Hal tersebut adalah dilarang memberikan informasi yang salah, tidak jujur memberikan ulasan, serta mengabaikan etika dan sensitivitas. Lalu, tidak boleh menyembunyikan hubungan dengan merek yang dipromosikan.

Workshop Literasi Digital ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital dapat diakses melalui website literasidigital.id, media sosial Instagram @literasidigitalkominfo Facebook Page dan Kanal Youtube Literasi Digital Kominfo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *