Marketplus.id – Transformasi digital mengharuskan masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan budaya baru, namun lebih dari itu juga harus mampu menjadi masyarakat digital yang pintar. Pasalnya ruang digital tidak hanya memfasilitasi dengan kemudahan dan berbagai manfaat di dalamnya, tetapi juga mengandung celah-celah digital di antaranya.

Tantangan dalam interaksi di ruang digital, Indonesia menjadi negara yang indeks kesopanan digitalnya paling buruk se-Asia Pasifik pada tahun 2020. Sedangkan di dunia nyata, Indonesia lebih terkenal dengan keramahtamahan masyarakatnya. Ini menunjukkan, dunia siber seolah terputus dari dunia nyata. Padahal keduanya sangat berkesinambungan.

Selain tidak sopan, tantangan di ruang siber di Indonesia adalah peredaran hoaks yang cukup tinggi. Pada 2020 setidaknya ada sebanyak 2.024 kasus hoaks yang dilaporkan. Maka dari itu kecakapan keamanan dalam bermedia digital harus dimiliki.

“Paling awal untuk aman dalam bermedia digital adalah menjaga keamanan akun dan diri kita. Atur dan periksa pengaturan privasi akun dan gunakan pengamanan ganda. Menggunakan kata kunci yang kuat dan berbeda setiap akun. Tidak menggunakan penyimpanan umum untuk informasi pribadi, menjaga privasi dari jaringan Wi-Fi publik, tidak membagikan lokasi di ruang digital, serta tidak asal klik link tak dikenal,” jelas Andro Hartanto, Co-Founder Iojin, saat menjadi pembicara dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (26/8/2021).

Andro menjelaskan, dunia siber bukanlah dunia yang sama sekali terpisah dari dunia offline, akan selalu ada orang yang melihat aktivitas yang dilakukan di dunia digital. Mereka yang ada digital adalah manusia yang sebagian dikenal dan sebagian lagi tidak dikenal sama sekali. Oleh karena itu menjaga sikap di ruang digital adalah etika utama.

“Membangun budaya digital sebagai masyarakat yang cerdas bisa dilakukan dengan memanfaatkan internet untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, mencari peluang bisnis, memperluas jaringan pertemanan, berbagi hobi dan berinteraksi di komunitas online. Memanfaatkan internet sebagai sarana mengembangkan kemampuan dan keterampilan sosial, menjaga komunikasi, mengakses informasi, dan sumber referensi untuk kebutuhan riset dan data,” paparnya.

Hal lain yang perlu dihindari saat di ruang siber, di antaranya dengan tidak melakukan ujaran kebencian, menyebarkan informasi pribadi seseorang (doxing), menyebarkan hoaks, mengakses pornografi, menyinggung SARA, dan tidak melakukan spam.

Ia juga menambahkan, untuk menjadi masyarakat digital yang pintar harus memiliki tiga kecakapan yang harus dalam empat platform digital.

“Individu cakap bermedia digital mampu mengetahui, memahami dan menggunakan perangkat keras serta perangkat lunak dalam lanskap digital, mesin pencarian informasi, aplikasi percakapan dan media sosial, serta aplikasi dompet digital, lokapasar, dan transaksi digital,” terangnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kamis (26/8/2021) juga menghadirkan pembicara Drg. Silvia (Founder @Lashtiquied), Andika Zakiy (Sajiwa), dan Muhamad Ridwan Arif (Relawan TIK Indonesia & Praktisi Pendidikan).