Marketplus.id – Masih banyak orang yang belum memahami betapa berisikonya data pribadi, seperti nama pengguna, kata sandi, alamat rumah, email, dan lain-lain yang bocor dan terbaca bebas di internet. Prinsipnya adalah memang data pribadi ini menjadi incaran banyak orang. Sangat berbahaya bila benar data ini bocor.

“Kejahatan terkait perbankan dengan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu. Data bisa digunakan pelaku kejahatan untuk membuat KTP palsu dan kemudian menjebol rekening korban,” kata Moh. Sulhan, Ketua Asosiasi Digital Marketing Jawa Timur, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (31/8/2021).

Selain itu, penjahat juga bisa melakukan phising yang ditargetkan atau rekayasa sosial. Walaupun di dalam file tidak ditemukan data yang sangat sensitif seperti detail kartu kredit, namun ada beberapa data pribadi.

“Bagi penjahat dunia maya, sudah cukup untuk menyebabkan kerusakan dan ancaman nyata,” ujarnya.

Ia menerangkan, penjahat siber bisa menggabungkan informasi yang ditemukan di file CSV yang bocor dengan pelanggaran data lain untuk memperoleh profil terperinci. Misalnya, dari data-data yang bocor yang platform e-commerce seperti Tokopedia dan Bukalapak.

“Dengan informasi seperti itu, penjahat dapat melakukan serangan phishing dan social engineering yang jauh lebih menyakinkan bagi para korbannya,” tuturnya.

Berikut sejumlah risiko kejahatan siber yang terjadi dengan memanfaatkan data tersebut:

  • Telemarketing

Data nomor telepon bisa diperjualbelikan untuk kepentingan telemarketing. Maka tak heran jika tiba-tiba pengguna ditelepon dan ditawari jasa atau produk. Tiba-tiba orang yang menelepon sudah mengetahui nama lengkap meski Anda tak pernah berafiliasi dengan perusahaan tersebut sama sekali. SMS spam berbau penipuan mulai penawaran berhadiah juga cukup menjengkelkan. Anda bisa menjadi ‘korban’ telemarketing ketika data nomor ponsel Anda sudah tersebar.

  • Modal Penipuan Phishing Scamming

Scam adalah tindakan penipuan dengan berusaha meyakinkan pengguna, misal memberitahu pengguna jika mereka memenangkan hadiah tertentu yang didapat jika memberikan sejumlah uang. Sementara phishing adalah teknik penipuan yang memancing pengguna, misal untuk memberikan data pribadi mereka tanpa mereka sadari dengan mengarahkan mereka ke situs Tokopedia palsu.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (31/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Jamal (System Analyst & Programmer), Diding Adi Parwoto (Praktisi IT & Ketua LPM IAI Uluwiyah Mojokerto), Yosy Indra Rini Hartoyo (Guru SMKN 1 Sukapura Kabupaten Probolinggo), dan Roofi Anggara (Influencer) sebagai Key Opinion leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.