Marketplus.id – Dampak Covid-19 menyebabkan banyak pekerja kehilangan pekerjaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 29,12 juta orang penduduk usia kerja terdampak pandemi Covid-19.

Rinciannya, dari 29,12 Juta orang yang terdampak pandemi, yakni pengangguran karena Covid-19 sebesar 2,56 juta orang, bukan angkatan kerja karena Covid-19 sebesar 0,76 juta orang.

“Ada banyak pengganguran akibat Covid-19,” ungkap Abdullah Umar, Dosen Universitas Nahdatul Ulama Blitar, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Jumat (3/9/2021).

Ia menjelaskan, 10 jenis pekerjaan yang paling banyak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Rinciannya, agen perantara penjualan dan pembelian banyak melakukan PHK sebesar 10,1%, lalu di posisi kedua, diisi pengemudi mobil, van dan sepeda motor yang telah memutuskan karyawannya sebesar 7,3%. Lalu, buruh tambang dan kontruksi sebesar 6,7%, lalu tenaga perkantoran umum 6,7%.

Lalu posisi kelima diisi teknisi ilmu kimia dan fisika sebesar 5,6%, lanjut pada perusahaan tenaga kebersihan dan juru bantu rumah tangga, hotel dan kantor sebesar 5,1%. Selain itu, pekerja penjual lainnya sebesar 4,5%. Serta, tenaga pengawas gedung dan kerumah tanggan sebesar 4,5% dan pekerja kasar lainnya sebesar 3,8% dan buruh industri pengolahan sebesr 3,9%.

Lanjutnya, perusahaan terdampak COVID-19 dari sisi persepsi perusahaan sebesar 40,6% menyatakan sangat merugi dan 47,4% menyatakan merugi, kalau digabungkan sebesar 88%, jumlah ini sangat besar sekali. Sementara, hanya 0,9% responden yang menyatakan pandemi ini menguntungkan dan sekitar 11% responden yang menyatakan tidak terdampak dengan adanya pandemi COVID-19 ini.

Dari segi dampak, sebanyak 20,3% perusahaan mengalami penurunan produksi, sebanyak 22,8% lainnya mengalami penurunan keuntungan dan 22,8% perusahaan lainnya mengalami penurunan permintaan. Rata-rata penurunan yang dialami di masing-masing dampak tersebut berada di skala 81-100%.

Lalu dari segi sektornya, penyedia akomodasi serta makanan dan minuman yang paling terdampak pandemi COVID-19 mulai dari segi produksi, keuntungan hingga permintaannya. Disusul, sektor real estate, konstruksi, jasa pendidikan, jasa perusahaan, informasi dan komunikasi, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan dan lainnya.

Hal itu membuat para perusahaan tersebut terpaksa menerapkan kebijakan PHK dan merumahkan karyawannya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Jumat (3/9/2021) juga menghadirkan pembicara Diana Aletheia Balienda (Fasilitator Kaizen Room), Drg. Silvia (Founder @Lashtqueid), Alfret Nara, dan Winda Ribka sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.