Marketplus.id – Rasa bosan dapat menghampiri ketika Anda memiliki waktu lebih di rumah. Seperti pada saat ini, pandemi corona mengharuskan Anda untuk melakukan segala aktivitas di rumah.

“Salah satu hal yang dapat dilakukan ketika berada di rumah adalah dengan melakukan belanja melalui transaksi online,” ungkap Lisa Nurfalah, Peneliti dan Konsultan Lingkungan di Lembaga Sains Terapan Universitas Indonesia, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (8/9/2021).

Ia menjelaskan, seiring dengan perkembangan zaman disertai dengan kemajuan teknologi, maka berdirilah sebuah toko yang memakai sistem online atau yang dikenal dengan e-commerce. Kehadiran e-commerce sebagai media transaksi baru ini tentunya menguntungkan banyak pihak, baik konsumen, maupun produsen dan penjual.

“Belanja online atau e-commerce ternyata memiliki berbagai macam keunggulan, yaitu proses transaksi yang lebih cepat, dapat menghemat waktu dan tenaga, dan kita dapat menentukan dan mengontrol harga produk yang akan kita beli. Di samping kelebihan, terdapat juga kekurangan dari sistem belanja online atau e-commerce, di antara lain seperti, kualitas produk yang tidak sesuai harga, waktu pengiriman produk yang lama, sering terjadi kerusakan dalam produk, bahkan ada beberapa yang mengalami penipuan yaitu barang yang dibeli tidak sampai ke tangan pembeli,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, berbagai macam aplikasi belanja online yang sering digunakan oleh masyarakat seperti, Shoppe, Lazada, Bukalapak, Tokopedia, dan lain sebagainya. Tentu dari setiap masing-masing toko online atau e-commerce tersebut memiliki beberapa kebijakan tersendiri. Contohnya ada yang menerapkan sistem tukar barang dan ada juga yang tidak.

Berbagai macam penawaran yang diberikan masing-masing toko online atau e-commerce kepada pembeli. Seperti gratis ongkir, adanya cashback pembelian, voucher potongan harga, bahkan promo buy 1 get 1. Pembayaran dalam belanja online juga memiliki beragam metode yaitu seperti melalui transfer bank, cash on delivery (cod), dan melalui kartu kredit.

Di samping itu semua, perlu juga perhatian lebih dari masyarakat dalam membeli sebuah produk. Seperti melakukan pengecekan toko rekomendasi atau tidak, melihat berbagai testimoni sebelum membeli, mengecek jumlah uang yang harus dibayar sebelum dikirim, dan hal-hal lainnya.

“Jadi baik pembeli maupun penjual diharapkan lebih bijak dalam mempergunakan sistem belanja online atau e-commerce agar dapat mengurangi dan mencegah terjadinya dampak negatif yang dapat ditimbulkan,” jelasnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (8/9/2021) juga menghadirkan pembicara Indah Pratiwi Arumsari (Tenaga Ahli DPR RI), Renaldi Ardiansyah Utomo (Wakil Ketua Yayasan Bangkalan Bisa), Wahid Maulidi (Ketua MGMP Kabupaten Bangkalan & Pimpinan Learning Center Bangkalan), dan Delfia Noor Safitri (Beauty Vlogger & Influencer) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.