Marketplus.id – Ibarat sebuah “bom ranjau” yang tertanam di tubuh penggunanya, jejak digital bisa berisiko “meledak” sewaktu-waktu jika ada pihak-pihak tertentu yang mengincar pemiliknya sebagai target.

Saat masuk ke dunia internet, pengguna internet meninggalkan jejak digital (footprint). Beberapa jejak digital yang tertinggal ketika masuk dunia maya: postingan di media sosial, pencarian di Google, tontonan di YouTube, pembelian di marketplace, jalur ojek online, games online yang dimainkan, aplikasi yang diunduh, musik online yang diputar, situs web yang dikunjungi, dan sebagainya.

Ia menjelaskan, jejak digital dibedakan menjadi dua, yakni jejak digital aktif dan jejak digital pasif. Jejak digital aktif biasanya berupa data atau informasi yang sengaja diunggah seseorang ke dunia maya. Contohnya, kicauan di Twitter, status Facebook, foto dan video postingan di Instagram, video YouTube.

“Sedangkan jejak digital yang pasif merupakan data yang ‘ditinggalkan’ tanpa sadar oleh pengguna ketika berselancar di dunia maya. Contoh: server menyimpan alamat IP, lokasi dan search history,” ujar Ayrton Edoardo Aryaprabawa, Founder & Director Crevolutionz, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (13/9/2021).

Ia menambahkan, pengguna internet untuk lebih berhati-hati terkait potensi bahaya jejak digital dalam hal akses data pribadi, pencurian identitas, juga doxing dan framing atau pencemaran nama baik dengan cara mengolah segala aktivitas digital yang pernah kita lakukan baik di website, blog, maupun media sosial.

Lanjutnya, informasi di siber pada dasarnya bersifat permanen. Untuk itu, berpikir kritis sebelum posting adalah penting. Hal itu mengingat apa pun yang ada di ruang siber mudah diduplikasi dan disebarluaskan, tetapi sulit dilenyapkan sekalipun sudah terhapus.

“Pahami circle lingkungan interaksi kita, tidak mengumbar data pribadi, unggah hal positif. Jangan hanya demi konten, kamu berbangga mem-posting hal buruk, cyberbullying, menghasut, ujaran kebencian, atau bahkan rasisme,” jelasnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (13/9/2021) juga menghadirkan pembicara Ervita (Sosial Media Specialist PT Pos Indonesia), Laila Chairy (Dosen dan Praktisi Komunikasi), Samsul Hadi (Kepala Sekolah SMK Kesehatan Kabupaten Ngawi), dan Sari Kusumaningrum sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.