Marketplus.id – Perkembangan teknologi digital membawa dampak positif dan negatif di kehidupan manusia. Positifnya, teknologi digital memudahkan kehidupan manusia, meningkatkan peluang ekonomi agar lebih produktif, dan memudahkan bersosialisasi juga mendapatkan informasi.

Di samping itu, nyatanya teknologi ini memberikan dampak negatif yang bisa membahayakan keamanan dan keselamatan penggunanya, termasuk pada masyarakat luas. Di antaranya kecanduan gadget, persaingan semakin ketat, dan individu tidak mampu menyaring informasi yang begitu banyak sehingga munculnya hoaks. Hal tersebut merupakan cikal bakal radikalisme.

“Radikalisme ialah paham atau aliran yang bersikap ekstrem dalam aliran politik yang menginginkan pembaharuan sosial politik dengan cara kekerasan atau drastis. Contoh radikalis grup adalah ISIS yang memiliki tujuan membangun negara kekhalifahan dengan cara-cara kekerasan,” papar Stephanie Olivia seorang tenaga ahli DPR RI dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (20/9/2021).

Ia menyampaikan, sebelum adanya media sosial cara perekrutan ISIS dilakukan secara langsung kepada sekelompok orang. Namun, di era teknologi digital seperti sekarang, sistem perekturan juga dilakukan lewat media sosial seperti Twitter, Telegram, dan lainnya. Biasanya unggahan kelompok ini bersifat provokatif dan membawa isu SARA.

Beberapa bulan lalu terjadi kasus penyerangan oleh salah satu anggota kelompok ISIS ke Mabes Polri. Dalam aksinya, pelaku melakukannya sendirian dan mempelajari ideologi radikal secara mandiri. Melalui contoh kasus ini, dapat terlihat redikalisme bisa dilakukan hanya karena terpapar idelogi di media sosial.

“Sebenarnya era digital membuat radikalisme semakin marak, yang bahaya ialah paham radikal yang berujung aksi teror. Di mana aksi teror itu merugikan masyarakat. Biasanya diikuti oleh korban jiwa. ISIS sangat diuntungkan dengan dunia digital, karena bisa klaim segala aksi teror yang terjadi,” jelas Staphanie.

Ia mengimbau, apapun yang kita lihat dan konsumsi di dunia digital ini harus diwaspadai. Sebagai konsumen media sosial, kita harus selalu bijak dan memiliki pemahaman yang baik terhadap suatu isu. Mempelajari isu tertentu pun tidak hanya dari satu sumber, tetapi dibandingkan antar sumber yang kredibel. Kita pun perlu memperbanyak riset terhadap sesuatu di internet. Memilih konten yang kita konsumsi di dunia digital serta tidak menyebarkan berita yang provokatif.

Dengan demikian, ketika mendapat informasi dari internet kita perlu melihat sumber terpercaya. Jika menemukan ujaran kebencian atau posting provokatif, jangan ikut menyebarkan. Menjadi masyarakat proaktif yang melaporkan hoaks, ujaran kebencian atau SARA, radikalisme, dan terorisme ke aduan konten. Hal tersebut juga upaya kita sebagai masyarakat sipil dalam memberantas radikalisme dan terorisme.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Senin (20/9/2021) juga menghadirkan pembicara Ida I Dewa Ayu Yayanti Wilyadewi (Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis dan Pariwisata), Ratna Winahyu Utami (Produser dan Penyiar di Radio Kosmonita Malang), Jonathan Adi Prabowo (Komisaris PT Diara Transnusa Group), dan Sheryl Dwi Artamevia sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.