Bolaang Mongondow Timur, 27 September 2021 – Sebanyak 950 peserta antusias mengikuti Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, yang dilaksanakan secara virtual pada 27 September 2021 di Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema saat ini adalah “Mari Berbahasa yang Benar dan Beretika di Ruang Digital”.

Empat orang narasumber tampil dalam seminar kali ini. Masing-masing yakni, asesor sekolah/madrasah, Taufani; IT Analyst & kreator konten, Reynaldo Joshua Salaki; jurnalis, Julkifli Madina; serta dosen IAIN Manado, Andi Fikra Pratiwi. Sedangkan moderator yaitu Artha Senna. Pada kegiatan webinar di Bolaang Mongondow Timur kali ini juga menghadirkan Wakil Bupati Bolaang Mongondow Timur, Oskar Manoppo; Kadis Pendidikan Yusri Damopolii; Kadis Kominfo, Ikhlas Setiawan Pasambuna sebagai Keynote Speaker. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Selanjutnya, Taufani sebagai pembuka sesi materi menyampaikan tema “Kecakapan Digital dan Pembelajaran Daring”. Menurut Taufani, indikator kecakapan digital meliputi pengetahuan dasar tentang internet dan dunia maya, mesin pencari sekaligus pemilahan data, aplikasi percakapan dan media sosial, serta dompet digital dan lokapasar maupun transaksinya. Asah kecakapan tersebut dengan mengikuti kursus daring, bertanya kepada yang ahli, atau terlibat dalam proyek yang terkait aktivitas digital. “Ikuti dan langganan akun yang peduli dengan peningkatan kecakapan digital,” jelasnya.

Selanjutnya, Reynaldo Joshua Salaki menyampaikan paparan berjudul “Hate Speech, Identifikasi Konten dan Regulasi yang Berlaku”. Ia mengatakan, ujaran kebencian dapat berupa bentuk tulisan atau konten yang menyerukan kekerasan terhadap individu atau kelompok tertentu. Larangan tindakan tersebut diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),  serta Pasal 156 dan 165A KUHP, UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. “Kebebasan berekspresi di media sosial bisa disalahgunakan oleh pengguna media sosial, salah satunya adalah ujaran kebencian,” ujarnya.

Pemateri ketiga, Julkifli Madina, memaparkan materi bertema “Memahami Batasan Dalam Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital”. Menurut dia, penggunaan Bahasa Indonesia di era internet kian berat dan mulai tergeser oleh bahasa asing. Padahal, pemakaian bahasa yang baik dan benar semata-mata tidak hanya sebagai upaya pelestarian, namun juga untuk menghindari jeratan hukum. “Dibutuhkan panutan atau role model yang konsisten dalam berbahasa yang baik dan benar. Bisa guru, orang tua, pejabat, tokoh publik, atau selebgram,” jelasnya.

Adapun Andi Fikra Pratiwi, sebagai narasumber terakhir menyampaikan paparan berjudul “Dunia Maya dan Rekam Jejak Digital”. Ia mengatakan, data warganet yang terlanjur tersebar di internet dapat dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadinya. Langkah yang bisa dilakukan untuk mengelola jejak digital positif adalah mengatur kebijakan privasi di perangkat, perkuat kata sandi, serta rajin mengunggah konten positif. “Gunakan akun yang berbeda untuk berbagai keperluan,” pesan dia.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Artha Senna. Para peserta tampak antusias dan mengirimkan banyak pertanyaan kepada narasumber. Sebagai apresiasi, panitia memberikan uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Pramana Sidarta, salah seorang peserta webinar, bertanya tentang kiat apa yang bisa dilakukan agar warga di daerah terpencil dapat bijak dan produktif di era digital. Menanggapi hal tersebut, Taufani mengatakan, hingga saat ini pemerintah tengah berupaya melakukan gerakan pemerataan infrastruktur digital. Selain itu, perlu juga peningkatan kualitas tenaga pendidik dalam memahami aplikasi dan platform digital.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.